Fenomena ini melahirkan istilah "petani kleronomos", yaitu petani yang mewarisi profesi dari orang tuanya secara turun-temurun. Ironisnya, dalam perkembangan zaman saat ini, banyak keluarga petani justru tidak lagi menginginkan anak-anak mereka meneruskan profesi tersebut. Mereka berharap generasi berikutnya memperoleh pekerjaan yang dianggap lebih bergengsi dan menjanjikan secara ekonomi.
Pandangan tersebut tidak lahir tanpa alasan. Selama bertahun-tahun, profesi petani identik dengan pekerjaan yang kotor, melelahkan, berpenghasilan rendah, serta penuh ketidakpastian. Risiko gagal panen akibat perubahan iklim, serangan hama, hingga fluktuasi harga hasil pertanian membuat sektor ini dipandang kurang menarik dibandingkan pekerjaan di sektor jasa, industri, maupun pemerintahan.
Akibatnya, regenerasi petani berjalan sangat lambat. Data menunjukkan bahwa mayoritas pelaku pertanian Indonesia saat ini didominasi kelompok usia di atas 40 tahun. Generasi muda yang terlibat dalam aktivitas pertanian jumlahnya terus menurun. Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka Indonesia berpotensi mengalami krisis regenerasi petani dalam beberapa dekade mendatang.
Persoalan ini semakin diperparah dengan rendahnya tingkat pendidikan sebagian besar petani. Data tahun 2018 menunjukkan mayoritas petani Indonesia hanya berpendidikan sekolah dasar atau bahkan tidak pernah mengenyam pendidikan formal. Kondisi tersebut berpengaruh terhadap kemampuan adaptasi terhadap perkembangan teknologi pertanian modern yang saat ini berkembang sangat pesat.
Padahal, era Revolusi Industri 4.0 membuka peluang besar bagi transformasi sektor pertanian. Kehadiran teknologi seperti Internet of Things (IoT), Artificial Intelligence (AI), drone pertanian, sensor digital, hingga sistem pemasaran berbasis platform online mampu meningkatkan efisiensi produksi sekaligus memperluas akses pasar. Sayangnya, teknologi tersebut sulit diadopsi secara maksimal apabila tidak didukung oleh sumber daya manusia yang memiliki literasi digital yang memadai.
Di sinilah peran generasi milenial dan Gen Z menjadi sangat penting. Generasi muda memiliki keunggulan dalam penguasaan teknologi, kreativitas, inovasi, serta kemampuan membaca tren pasar global. Mereka dapat menjadi motor penggerak modernisasi pertanian Indonesia menuju sektor yang lebih produktif, efisien, dan berdaya saing tinggi.
Namun, upaya menarik minat pemuda ke sektor pertanian tidak cukup hanya dengan slogan. Pemerintah harus menghadirkan kebijakan yang benar-benar memberikan kepastian usaha bagi petani muda. Program regenerasi seperti "Sejuta Petani Milenial" perlu diperkuat melalui akses permodalan, kepemilikan lahan, pelatihan teknologi, hingga jaminan pemasaran hasil produksi.
Selain itu, pendidikan kewirausahaan pertanian harus menjadi bagian penting dalam sistem pendidikan. Perguruan tinggi, sekolah kejuruan, dan lembaga pelatihan perlu membangun paradigma baru bahwa petani bukan lagi profesi tradisional yang identik dengan kemiskinan, melainkan seorang entrepreneur yang mampu mengelola bisnis pertanian modern berbasis teknologi.
Kolaborasi antara generasi tua dan generasi muda juga menjadi kunci keberhasilan regenerasi. Pengalaman yang dimiliki petani senior harus dipadukan dengan kemampuan teknologi dan inovasi yang dimiliki generasi muda. Sinergi tersebut akan menciptakan sistem pertanian yang kuat, adaptif, dan berkelanjutan.
Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah dan potensi pertanian yang luar biasa. Namun, semua potensi itu akan kehilangan makna apabila tidak ada generasi penerus yang siap mengelolanya. Regenerasi petani bukan sekadar persoalan pergantian usia pelaku pertanian, melainkan investasi jangka panjang untuk menjaga kedaulatan pangan bangsa.
Sudah saatnya paradigma tentang petani diubah. Petani bukan profesi kelas dua, melainkan profesi strategis yang menentukan masa depan bangsa. Jika generasi muda mampu melihat pertanian sebagai peluang bisnis modern yang menjanjikan, maka sektor ini bukan hanya menjadi penopang ekonomi nasional, tetapi juga menjadi jalan menuju Indonesia yang mandiri dan berdaulat dalam pangan.

0Komentar