AMBON, TINTATIMUR.ID – Beredarnya selebaran digital berisi ucapan selamat dari seorang anggota partai politik berinisial RBS kepada salah seorang kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) memicu polemik di kalangan kader IMM Kota Ambon.
Pasalnya, dalam desain ucapan tersebut turut disematkan logo Partai Golongan Karya (Golkar) dan organisasi sayapnya, SOKSI, yang dinilai mencederai independensi organisasi.
Kader IMM Kota Ambon, Ahmad Arga, menilai persoalan tersebut bukan terletak pada pemberian ucapan selamat, melainkan pada penyertaan atribut partai politik yang dianggap membawa organisasi kemahasiswaan ke dalam ruang politik praktis.
Menurutnya, IMM merupakan organisasi otonom Muhammadiyah yang memiliki sikap independen dan berpegang teguh pada Khittah Muhammadiyah, sehingga tidak boleh diidentikkan ataupun dikaitkan dengan kepentingan partai politik tertentu.
"Secara kelembagaan, posisi IMM itu sudah jelas, independen dan tegak lurus pada Khittah Muhammadiyah, seperti Khittah Ujung Pandang 1971. IMM bukan onderbouw dan tidak boleh terafiliasi dengan partai politik mana pun. Ketika logo Golkar dan SOKSI dimasukkan ke dalam ruang ucapan untuk kader, ini jelas mencederai khittah perjuangan kita," ujar Arga kepada Tintatimur.id, Rabu (01/06/2026).
Dia membandingkan sikap RBS dengan sejumlah alumni maupun senior IMM yang saat ini aktif sebagai politisi. Para senior tersebut mampu membedakan posisi sebagai kader IMM dan sebagai anggota partai politik.
"Banyak senior kami di IMM yang juga merupakan anggota partai atau politikus. Namun kami tidak pernah meminta tindakan serupa dari mereka, karena mereka memahami batasan. Mereka tahu kapan harus menempatkan diri sebagai politisi dan kapan harus menghormati marwah independensi IMM sebagai rumah ideologi. Mereka paham etika itu," katanya.
Dirinya juga mengingatkan RBS agar memahami arah perjuangan IMM yang berorientasi pada pengembangan intelektual kader, bukan menjadi ruang bagi kepentingan politik praktis.
"Kami ingin mengingatkan kepada Saudara RBS agar memahami kembali ke mana arah organisasi ini berjalan. IMM adalah wadah intelektual, bukan kendaraan atau panggung komoditas politik praktis. Jangan sampai identitas kepartaian mengaburkan batasan yang telah digariskan para pendahulu organisasi," tuturnya.
Lebih lanjut, Arga menegaskan bahwa fokus gerakan IMM selama ini berada pada tiga bidang utama, yakni keagamaan, kemahasiswaan, dan kemasyarakatan.
Sebab itu, ia menilai penyandingan logo partai politik dalam momentum yang berkaitan dengan kader IMM berpotensi menimbulkan persepsi bahwa organisasi memiliki afiliasi politik tertentu.
"Fokus gerakan kami adalah perkaderan intelektual. Tindakan menyandingkan logo partai dalam momentum internal seperti ini memicu keresahan di kalangan kader karena seolah-olah menyeret IMM ke dalam kepentingan kelompok politik tertentu. Marwah independensi ikatan harus tetap dijaga," pungkasnya. (RED)

0Komentar