Oleh: Siti Khoiriyah Hatala
“Kekeringan tidak hanya mengeringkan lahan, tetapi juga menguji seberapa siap pemerintah membangun ketahanan pangan daerah.”
TINTATIMUR.ID — Kemarau panjang kembali menjadi persoalan serius bagi masyarakat Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT). Lahan pertanian terdampak, sumber air menyusut, dan petani harus menghadapi ketidakpastian dalam mempertahankan hasil produksi. Pemerintah Kabupaten SBT pun menyiapkan bantuan bibit gratis bagi warga yang terdampak.
Langkah tersebut tentu patut diapresiasi. Dalam situasi ketika petani kehilangan kesempatan untuk menanam atau mengalami kerusakan pada tanaman, bantuan bibit dapat menjadi bentuk kehadiran pemerintah untuk membantu masyarakat kembali berproduksi.
Namun, ada satu pertanyaan yang perlu kita ajukan bersama: apakah persoalan pertanian SBT selesai hanya dengan membagikan bibit?
Pertanyaan ini penting karena skala persoalan kekeringan di SBT tidak kecil. Dalam laporan situasi per 3 Juli 2026, BNPB mencatat bahwa kekeringan yang berlangsung sejak Mei hingga Juli telah berdampak pada tujuh kecamatan, yakni Bula, Bula Barat, Seram Timur, Pulau Gorom, Gorom Timur, Kesui Watubela, dan Teor. Sebanyak 7.107 kepala keluarga atau 24.089 jiwa tercatat terdampak. BNPB juga melaporkan penurunan debit air yang cukup drastis hingga sejumlah sumur dan sungai mengering.
Sebulan kemudian, persoalan tersebut masih menunjukkan urgensinya. Pada 4 Agustus 2026, Pemerintah Kabupaten SBT menetapkan status tanggap darurat untuk bencana kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pemerintah daerah juga menyatakan masih melakukan upaya pemenuhan kebutuhan air bersih dan mencari sumber-sumber air baru.
Data tersebut menunjukkan bahwa persoalan yang dihadapi bukan sekadar kekurangan bibit. Ketahanan air dan ketahanan pertanian harus menjadi bagian dari solusi.
Bibit Penting, Tetapi Air Lebih Fundamental!
Petani membutuhkan bibit untuk menanam. Tetapi bibit tanpa air akan sulit tumbuh.
Inilah yang seharusnya menjadi bahan evaluasi dalam setiap kebijakan bantuan pertanian di daerah yang rentan terhadap kekeringan. Jangan sampai pemerintah sibuk menyediakan input pertanian, tetapi belum cukup serius membangun sistem yang memastikan input tersebut dapat tumbuh dan menghasilkan.
Pemberian bibit seharusnya ditempatkan sebagai salah satu bagian dari pemulihan, bukan keseluruhan solusi.
Pemerintah perlu memikirkan pertanyaan yang lebih panjang: dari mana air untuk tanaman? Bagaimana petani menghadapi kemarau berikutnya? Apakah jenis tanaman yang diberikan sesuai dengan kondisi lahan? Apakah petani mendapatkan pendampingan? Bagaimana jika hasil panen kembali gagal karena kekeringan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting karena bantuan yang hanya menyelesaikan persoalan hari ini berisiko membuat masyarakat kembali menghadapi persoalan yang sama pada musim kemarau berikutnya.
SBT Tidak Harus Memulai dari Nol!
Kritik ini bukan berarti pemerintah tidak memiliki langkah konkret.
Justru, ada contoh yang bisa dikembangkan. Balai Wilayah Sungai Maluku mencatat pembangunan Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) di Desa Waisamet, SBT, sepanjang 1,2 kilometer yang mampu mengairi sekitar 12 hektare lahan. Infrastruktur tersebut ditujukan untuk mendukung ketahanan pangan dan produktivitas pertanian.
Ini menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur air untuk pertanian bukan sesuatu yang mustahil dilakukan di SBT.
Karena itu, daripada hanya berfokus pada pembagian bibit ketika bencana sudah terjadi, pemerintah dapat mulai membangun peta ketahanan air pertanian SBT.
Wilayah yang memiliki risiko kekeringan tinggi perlu dipetakan. Sumber air yang masih tersedia perlu diidentifikasi. Lahan pertanian yang membutuhkan irigasi perlu diprioritaskan. Embung, sumur produksi, jaringan irigasi air tanah, penampungan air hujan, dan teknologi penghematan air dapat dikembangkan sesuai karakteristik masing-masing wilayah.
Dengan demikian, ketika kemarau datang, pemerintah tidak lagi hanya bertanya, “Apa yang harus kita bagikan kepada petani?”
Tetapi sudah memiliki jawaban atas pertanyaan yang lebih penting:
“Bagaimana memastikan petani tetap bisa berproduksi?”
Pertanian SBT Harus Beradaptasi!
Selain persoalan air, pemerintah juga perlu mendorong pertanian yang lebih adaptif terhadap kondisi iklim.
Pemilihan bibit harus mempertimbangkan karakteristik lahan dan ketahanan tanaman terhadap kondisi kering. Petani juga perlu mendapatkan edukasi mengenai pengelolaan tanah, konservasi air, pola tanam, serta waktu tanam yang menyesuaikan prakiraan musim.
Hal ini semakin relevan karena BMKG memasukkan Kabupaten Seram Bagian Timur dalam wilayah yang mendapat perhatian dalam peringatan dini kekeringan meteorologis.
Dengan dukungan data cuaca dan informasi iklim, petani seharusnya tidak dibiarkan berjalan sendiri menghadapi ketidakpastian musim.
Pemerintah daerah dapat membangun sistem informasi sederhana melalui kelompok tani, penyuluh pertanian, pemerintah desa, hingga media sosial. Informasi mengenai prakiraan hujan, waktu tanam, potensi kekeringan, dan rekomendasi komoditas dapat disampaikan secara berkala.
Teknologi tidak harus selalu mahal. Yang terpenting adalah informasi tersebut sampai kepada petani dan dapat digunakan untuk mengambil keputusan.
Jangan Tunggu Bencana Baru Bergerak!
Persoalan yang lebih besar adalah pola penanganan yang sering kali baru terlihat ketika dampak sudah terjadi.
Ketika tanaman gagal, bantuan diberikan. Ketika air mengering, distribusi air dilakukan. Ketika lahan terbakar, pemadaman dilakukan.
Semua itu penting. Namun, pembangunan daerah membutuhkan sesuatu yang lebih jauh dari sekadar respons.
Kita membutuhkan pencegahan dan kesiapsiagaan.
SBT bahkan telah memiliki regulasi mengenai penerapan sistem pertanian organik pada padi lahan kering pesisir. Peraturan tersebut antara lain diarahkan untuk meningkatkan pertanian lahan kering dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan, daya dukung, kearifan lokal, serta peningkatan pendapatan petani.
Artinya, fondasi kebijakan sebenarnya sudah ada.
Tantangannya sekarang adalah bagaimana kebijakan tersebut diterjemahkan menjadi program yang benar-benar terasa di tingkat petani.
Dari Bantuan Bibit Menuju Ekosistem Pertanian
Karena itu, bantuan bibit gratis tetap layak diberikan kepada petani terdampak. Tetapi program tersebut sebaiknya dikembangkan menjadi paket pemulihan pertanian, bukan sekadar pembagian bibit.
Paket tersebut dapat mencakup empat hal.
Pertama, bibit yang adaptif terhadap kondisi lokal dan musim.
Kedua, jaminan akses air, melalui pengembangan embung, sumur, irigasi air tanah, penampungan air hujan, dan perbaikan jaringan pengairan di wilayah prioritas.
Ketiga, pendampingan petani, agar bantuan tidak berhenti pada distribusi barang tetapi menghasilkan pengetahuan dan kemampuan baru.
Keempat, sistem peringatan dini dan kalender tanam berbasis informasi iklim, sehingga petani dapat mengambil keputusan lebih tepat sebelum memasuki periode kekeringan.
Pemerintah juga dapat menggandeng perguruan tinggi, kelompok tani, penyuluh, komunitas lingkungan, dunia usaha, dan pemerintah desa untuk membangun model pertanian tahan kekeringan yang dapat direplikasi dari satu wilayah ke wilayah lainnya.
SBT Harus Belajar dari Kemarau Ini
Kemarau panjang seharusnya tidak hanya dipandang sebagai bencana yang harus dilewati.
Ia harus menjadi alarm pembangunan.
Alarm bahwa ketahanan pangan tidak dapat dipisahkan dari ketahanan air. Bahwa bantuan sosial dan bantuan pertanian memang penting, tetapi pembangunan infrastruktur dan kapasitas masyarakat jauh lebih menentukan untuk jangka panjang.
Pemerintah Kabupaten SBT layak diapresiasi ketika hadir membantu petani. Tetapi apresiasi itu seharusnya berjalan beriringan dengan keberanian masyarakat untuk memberikan kritik dan pertanyaan.
Sebab kritik bukan berarti membenci pemerintah.
Kritik adalah cara masyarakat mengingatkan bahwa kebijakan hari ini akan menentukan kondisi masyarakat pada tahun-tahun berikutnya.
Jika hari ini petani diberikan bibit, maka pastikan besok mereka memiliki air untuk menanam.
Jika hari ini lahan mereka dipulihkan, pastikan musim kemarau berikutnya mereka tidak kembali mengalami persoalan yang sama.
Dan jika hari ini kekeringan dianggap sebagai bencana, maka jadikan pengalaman ini sebagai dasar untuk membangun SBT yang lebih siap menghadapi kemarau, lebih kuat menjaga air, dan lebih mandiri dalam menjaga pangan.
Karena petani tidak hanya membutuhkan bibit untuk kembali menanam. Mereka membutuhkan sistem yang membuat hasil tanam mereka memiliki peluang untuk bertahan.

0Komentar