BULA, TINTATIMUR.ID Kelas filial SD Negeri 8 Kilmury di Dusun Wolok, Kecamatan Kilmury, Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), kini tak lagi digunakan.

Sebanyak 32 terhitung dari kelas 1 sampai 6, yang berasal dari Dusun Wolok kembali mengikuti proses belajar mengajar di sekolah induk yang berada di Desa Undur.

Hal tersebut disampaikan guru SD Negeri 8 Kilmury, Ratna Saramuku, saat diwawancarai Tintatimur.id, Senin (31/08/2026).

“Untuk sekarang sudah tidak ada proses di kelas filial, siswa semua sudah kembali belajar di sekolah induk di Undur,” ujar Ratna.

Menurutnya, siswa dari Wolok setiap hari berjalan kaki menuju sekolah induk, dengan jarak sekitar tiga kilometer.

Meski demikian, akses jalan saat ini dinilai cukup memungkinkan untuk dilalui.

“Anak-anak berjalan setiap hari ke sekolah induk. Alhamdulillah lancar,” katanya.

Dia menjelaskan bahwa kondisi tertentu, siswa yang memiliki biaya juga dapat menggunakan jasa ojek.

Namun, akses transportasi tersebut tidak selalu tersedia dan penggunaannya bergantung pada kemampuan masing-masing siswa maupun keluarga.

Sementara itu, perjalanan dari Wolok menuju Undur dapat ditempuh melalui sejumlah jalur.

Warga terkadang menggunakan jalan pantai maupun jalur darat melalui yang sudah di gusur.

Lebih lanjut, kondisi jalan yang dilalui saat ini cukup memungkinkan. Meski demikian, terdapat sejumlah titik yang berpotensi menjadi kendala, terutama ketika kondisi sungai atau kali mengalami peningkatan debit air.

Ia menambahkan, pada jalur tertentu terdapat kali yang harus dilewati warga. Namun, ketika kondisi kali surut atau kering, perjalanan masih dapat dilalui dengan berjalan kaki maupun menggunakan kendaraan roda dua.

“jadi bisa lewat saja. Kebetulan di jalan darat itu hanya ada satu titik sungai tapi dengan ukuran kecil, jadi aman,” tuturnya. 

Sementara itu, Kepala SD Negeri 8 Kilmury, Hasniwati Bugis, membenarkan hal tersebut. Ia mengatakan sejak dirinya mulai bertugas berdasarkan SK tertanggal 4 Mei 2026, tidak lagi terdapat aktivitas pembelajaran di kelas filial.

“Sejak saya mendapat SK tanggal 4 Mei, tidak ada aktivitas lagi di sana. Sejak tanggal 5 itu tidak ada aktivitas di filial. Semua sekolah di sekolah induk,” jelasnya.

Dirinya menyebut, KBM di sekolah induk berjalan normal. Para siswa juga telah mengikuti masa pengenalan lingkungan sekolah.

Ia menegaskan, meski berada di wilayah terpencil, pihak sekolah berkomitmen memberikan pendidikan yang setara kepada seluruh siswa, termasuk melalui kegiatan ekstrakurikuler bahasa Inggris dan pengenalan komputer dasar.

“Sekalipun kita terpencil di kampung, saya ingin anak-anak punya pendidikan yang sama seperti di kota kabupaten,” pungkasnya. (RED)