BULA, TINTATIMUR.ID Polemik pembangunan sekolah di Dusun Wolok, Kecamatan Kilmury, Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), mendapat perhatian Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) setempat. 

Anggota DPRD SBT Idrus Wakano menilai persoalan utama yang dihadapi siswa Wolok bukan soal lokasi pembangunan sekolah, melainkan akses menuju sekolah yang berada di Undur.

Pasalnya, aktivitas siswa-siswi bakal terganggu saat hujan dan banjir pada sejumlah titik sungai di wilayah tersebut. 

“Persoalannya sebenarnya ada pada kondisi geografis. Saat hujan terjadi banjir, siswa tidak bisa ke sekolah,” ujar Idrus kepada Tintatimur.id, Jumat (28/08/2026).

Sebab itu, ia mendorong Pemerintah daerah (Pemda) mencari solusi konkret, salah satunya membangun jembatan darurat di sejumlah titik sungai yang berada antara Wolok-Undur.

“Minimal ada jembatan darurat sehingga mempermudah aksesibilitas siswa ke sekolah dan pulang sekolah,” katanya.

Dia juga mengingatkan bahwa pembangunan sekolah baru melalui program revitalisasi harus memenuhi ketentuan dan petunjuk teknis yang ditetapkan pemerintah pusat, termasuk persyaratan jumlah siswa.

Lebih lanjut, pemerintah daerah hanya memiliki kewenangan mengusulkan, sedangkan penetapan lokus revitalisasi dilakukan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.

“Kalau jumlah siswanya tidak memenuhi syarat dalam petunjuk teknis, langkah paling penting saat ini adalah menyelesaikan beberapa titik akses agar siswa bisa sampai ke sekolah dengan baik dan aman,” jelasnya.

Ia menegaskan, aspirasi masyarakat Wolok tetap harus dihargai. Namun, solusi pendidikan juga tidak boleh mengabaikan aturan.

“Yang harus kita dorong adalah bagaimana siswa-siswi di Wolok bisa ke sekolah di Undur dengan tenang, kembali dengan tenang, aman dan nyaman,” pungkasnya. (RED)