BULA, TINTATIMUR.ID — Persoalan antrean panjang bahan bakar minyak (BBM) di Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) kembali mendapat sorotan tajam dari anggota DPRD SBT, Darwis Rumakey.
Darwis yang merupakan politisi Partai Demokrat itu bahkan menyebut kondisi yang terus berulang tersebut patut dicurigai.
Sebab, tidak menutup kemungkinan merupakan bentuk “kejahatan bersama” antara pemerintah daerah dan pihak Pertamina.
Pernyataan itu disampaikan Darwis saat rapat bersama mitra Komisi II DPRD SBT di ruang Paripurna DPRD SBT, Rabu (12/08/2026).
Dia mengaku melihat langsung kondisi antrean BBM yang terjadi di lapangan. Ia bahkan sengaja ikut mengantre untuk memastikan sendiri persoalan yang selama ini dikeluhkan masyarakat.
“Beberapa hari antre, sampai tiga mobil menuju bagian saya, minyak habis. Minyak habis,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi tersebut tidak bisa lagi dianggap sebagai persoalan biasa apabila terus terjadi berulang kali.
Dia menilai perlu ada evaluasi menyeluruh terhadap mekanisme distribusi BBM di SBT.
“Ini kejahatan sekali. Jadi ini memang bisa diduga dan bisa saja terjadi kejahatan bersama yang dilakukan pemerintah daerah dengan pihak Pertamina,” tegasnya.
Dirinya menekankan, dugaan tersebut bukan sekadar cerita yang beredar di tengah masyarakat. Sebab, menurut dia, kondisi antrean panjang dapat disaksikan secara langsung.
“Yang terjadi kita lihat di depan mata ini. Ini bukan cerita lagi. Kita lihat sendiri,” katanya.
Darwis meminta DPRD SBT tidak hanya membahas persoalan tersebut dalam rapat, tetapi mendorong lahirnya rekomendasi konkret untuk menyelesaikan masalah distribusi BBM.
Baginya, sebagai daerah yang dikenal sebagai daerah minyak, kondisi masyarakat yang masih harus berhadapan dengan antrean panjang BBM merupakan sebuah ironi.
“Kota Bula ini kota minyak, tapi antreannya sangat banyak,” tandasnya.
Ia berharap pemerintah daerah dan pihak Pertamina segera memberikan penjelasan terbuka sekaligus memastikan distribusi BBM berjalan secara adil dan sesuai kebutuhan masyarakat. (RED)

0Komentar