BULA, TINTATIMUR.ID Perwakilan warga Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), Samsudin Unawekla alias Amson, memperingatkan Balam Energy Limited agar tidak mengabaikan kontraktor dan pekerja lokal dalam pelaksanaan kegiatan perusahaan di Bula.

Amson menyebut masyarakat tidak mempermasalahkan keberadaan Balam Energy. Namun, perusahaan diminta memberikan kesempatan kepada masyarakat lokal untuk terlibat dalam berbagai pekerjaan yang tersedia.

“Kami tetap mendukung Balam. Yang penting Balam bisa bekerja sama dengan PT lokal dan memberikan pekerjaan kepada orang lokal,” kata Amson, Senin (24/08/2026).

Dia menyoroti pekerjaan mobilisasi dan pengangkutan alat yang menurutnya dapat dikerjakan oleh kontraktor lokal.

Amson mempertanyakan alasan perusahaan mendatangkan kontraktor dari luar, sementara di SBT terdapat perusahaan lokal yang dinilai mampu mengerjakan pekerjaan tersebut.

“Selama ini ada PT lokal yang bisa menangani hal ini. Kenapa tidak ambil orang lokal, malah didatangkan dari luar?” ujarnya.

Menurutnya, keterlibatan tenaga kerja tidak harus terbatas pada warga Bula. Masyarakat dari seluruh wilayah SBT juga dapat diberikan kesempatan, selama memenuhi persyaratan dan memiliki kemampuan yang dibutuhkan.

“Bukan hanya orang Bula, tetapi orang SBT. Yang penting punya pengalaman dan skill untuk bekerja,” jelasnya.

Dirinya juga menyebut potensi pekerjaan yang dapat melibatkan masyarakat cukup banyak. Selain tenaga kerja utama, terdapat kebutuhan di sektor transportasi, mobilisasi hingga penyediaan makanan atau katering.

“Bagian transportasi ada, bagian makan atau catering juga ada. Banyak item pekerjaan yang bisa melibatkan masyarakat,” katanya.

Amson berharap Balam Energy dapat menggandeng perusahaan lokal, termasuk PT Pelangi yang disebut warga sebagai salah satu perusahaan lokal yang dapat dilibatkan.

“Balam harus mengambil PT lokal untuk berdampingan dengan mereka, sehingga masyarakat juga punya pekerjaan,” tuturnya.

Ia menegaskan, apabila perusahaan tetap mempertahankan kontraktor dari luar daerah, warga tidak menutup kemungkinan melakukan aksi penolakan.

“Kalau PT dari luar, pasti ditolak. Kalau itu terjadi, masyarakat akan melakukan aksi,” tegas Amson.

Lebih lanjut, perwakilan warga yang menyampaikan aspirasi saat ini baru sebagian kecil. Jika persoalan tersebut tidak mendapat penyelesaian, jumlah massa yang terlibat dalam aksi dapat lebih besar.

“Yang datang sekarang hanya perwakilan. Kalau aksi, bisa lebih banyak, bahkan sampai ratusan pekerja,” pungkasnya. (RED)