TUAL, TINTATIMUR.ID — Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa meminta kerja sama penangkapan ikan antara Indonesia dan Tiongkok melalui skema Technical Cooperation Guidelines (TCG) tidak berhenti pada aktivitas penangkapan ikan semata.
Menurut Lewerissa, kerja sama tersebut harus memberikan nilai tambah bagi Maluku dengan memastikan seluruh rantai kegiatan perikanan terintegrasi di daerah.
Hal itu disampaikan Lewerissa saat peluncuran kerja sama TCG antara Pemerintah RI dan Pemerintah Republik Rakyat Tiongkok di Kota Tual, Kamis (24/09/2026).
“Kami ingin memastikan potensi sumber daya ikan dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk Maluku. Kegiatan penangkapan harus diikuti dengan pendaratan hasil tangkapan, proses pengolahan, hingga pembangunan fasilitas pendukung perikanan di daerah ini,” tegasnya.
Lewerissa menilai, besarnya potensi kelautan Maluku harus mampu memberikan dampak langsung terhadap perekonomian masyarakat.
Pasalnya, sekitar 91,71 persen wilayah Maluku merupakan lautan. Kondisi geografis tersebut membuat sebagian besar kehidupan masyarakat Maluku memiliki keterkaitan erat dengan sektor kelautan dan perikanan.
Sebab itu, keberadaan investor dan mitra kerja sama dari Tiongkok harus diarahkan untuk memperkuat ekosistem perikanan di Maluku.
Tidak hanya meningkatkan volume produksi, tetapi juga membuka lapangan kerja, mendorong tumbuhnya industri pengolahan dan membangun fasilitas pendukung perikanan di wilayah setempat.
“Kerja sama skema TCG ini harus memberikan manfaat nyata dan langsung bagi daerah serta masyarakat Maluku,” ujarnya.
Pemprov Maluku menyatakan siap mendukung pelaksanaan kerja sama tersebut sesuai kewenangan daerah.
Diharapkan potensi sumber daya ikan Maluku tidak sekadar menjadi sumber produksi, tetapi mampu berkembang menjadi kekuatan ekonomi yang memberikan manfaat bagi masyarakat dan daerah. (RED)

0Komentar