AMBON, TINTATIMUR.ID — Pengenalan Budaya Akademik Prodi (PBAP) tidak harus identik dengan perundungan maupun kekerasan terhadap mahasiswa baru.
Pesan itu ditunjukkan mahasiswa Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) UIN Abdul Muthalib Sangadji (AMSA) Ambon melalui aksi nyata di Pantai Wisata Liang, Kabupaten Maluku Tengah, Minggu (06/09/2026).
Memasuki hari kedua pelaksanaan PBAP, mahasiswa PMI UIN AMSA menggelar bakti sosial berupa aksi pembersihan kawasan Pantai Liang.
Aksi tersebut dipimpin Ketua Himpunan Mahasiswa Program Studi (Himapro) PMI UIN AMSA, Latif Rumauw, yang dimulai sekitar pukul 10.30 WIT.
Lutfi mengatakan, kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mengenalkan mahasiswa baru pada kepedulian sosial dan lingkungan.
Ditegaskan, PBAP seharusnya menjadi ruang edukasi yang membentuk karakter mahasiswa, bukan menjadi ajang perundungan atau tindakan kekerasan dengan dalih tradisi pengenalan kampus.
Menurutnya, mahasiswa baru perlu diperkenalkan sejak awal bahwa dunia akademik tidak hanya berbicara tentang ruang kelas dan teori, tetapi juga tentang kepekaan terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat.
“PBAP tidak selalu harus membuli atau melakukan kekerasan terhadap mahasiswa baru. Justru mahasiswa baru harus dilatih untuk peduli terhadap lingkungan sosial dan masyarakat,” tegas Latif.
Dia menilai, praktik pengenalan budaya akademik yang masih diwarnai perundungan dan tindakan serupa sudah semestinya ditinggalkan.
Sebagai gantinya, kegiatan yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat dan lingkungan harus lebih dikedepankan.
“Kegiatan yang berdampak bagi masyarakat harus menjadi bagian dari proses pengenalan budaya akademik,” ujarnya.
Pemilihan Pantai Liang sebagai lokasi bakti sosial juga bukan tanpa alasan.
Kawasan wisata tersebut merupakan salah satu destinasi yang ramai dikunjungi masyarakat, sehingga kebersihan pantai menjadi tanggung jawab bersama.
Melalui aksi peduli sampah itu, mahasiswa PMI UIN AMSA tidak hanya membersihkan lingkungan, tetapi juga membawa pesan bahwa kegiatan kemahasiswaan dapat menjadi ruang pembentukan karakter, kepedulian sosial, dan tanggung jawab terhadap lingkungan.
PBAP pun diharapkan tidak berhenti sebagai agenda seremonial bagi mahasiswa baru.
Lebih dari itu, kegiatan tersebut dapat menjadi langkah awal membangun budaya akademik yang sehat tanpa kekerasan, tanpa perundungan, dan lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat. (RED)


0Komentar