SBB, TINTATIMUR.ID – Suasana haru menyelimuti pertemuan Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa dengan puluhan anak terdampak konflik di Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), Senin (14/09/2026).
Tangis Hendrik pecah saat melihat langsung kondisi anak-anak asal Desa Patahuwe yang ikut merasakan pahitnya konflik antarkelompok.
Tak kuasa menahan haru, orang nomor satu di Maluku ini mengusap air matanya di hadapan anak-anak yang mendapat pendampingan di lokasi.
“Kami tidak ingin situasi seperti ini terjadi. Saya harap semua dapat berakhir dengan cepat,” ujar Hendrik dengan suara penuh keprihatinan.
Momen tersebut sontak membuat suasana di lokasi menjadi hening. Warga dan para pendamping yang berada di sekitar lokasi ikut menyaksikan luapan emosi Gubernur saat melihat dampak konflik terhadap anak-anak.
Pantauan Tintatimur.id, puluhan anak dari Desa Patahuwe mendapat pendampingan dari relawan yang melibatkan unsur TNI dan Polri.
Mereka diberikan edukasi dan pendampingan untuk menciptakan rasa aman sekaligus membantu mengurangi tekanan psikologis akibat situasi konflik.
Di tengah teriknya matahari, Ketua DPD Partai Gerindra Provinsi Maluku ini menaruh perhatian khusus terhadap kondisi anak-anak.
Ia meminta pendampingan dan edukasi terus diberikan agar mereka tetap mendapatkan hak untuk belajar dan tumbuh dalam suasana yang aman.
“Anak-anak harus diberikan edukasi yang baik,” tegasnya.
Kepedulian itu juga diwujudkan Pemerintah Provinsi Maluku melalui penyaluran bantuan bagi anak-anak terdampak.
Bantuan yang diberikan meliputi pakaian dan seragam, makanan, serta obat-obatan.
Gubernur berharap konflik antara kelompok Desa Lisabata dan Desa Patahuwe, Kecamatan Taniwel, tersebut segera berakhir.
Menurutnya, masyarakat harus kembali hidup berdampingan tanpa rasa takut, sementara anak-anak harus segera dikembalikan pada lingkungan yang aman dan kondusif.
Konflik yang terjadi beberapa hari lalu itu tidak hanya menimbulkan korban, tetapi juga menyebabkan sejumlah rumah dan tanaman cengkih milik warga terbakar.
Bagi Hendrik, dampak terbesar dari konflik bukan hanya kerusakan fisik, tetapi juga luka yang dapat membekas pada anak-anak.
Karena itu, ia menegaskan pentingnya memastikan anak-anak tetap mendapatkan perhatian, perlindungan, dan pendampingan hingga situasi benar-benar kembali aman. (RED)

0Komentar