BULA, TINTATIMUR.ID — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), mencatat perbaikan kualitas udara setelah hujan mengguyur sejumlah wilayah tersebut.

Meski tingkat pencemaran menurun dari kategori berbahaya, masyarakat diminta tetap waspada terhadap dampak sisa kebakaran hutan dan lahan (karhutla), termasuk potensi partikel kotoran yang terbawa air hujan.

Kepala Dinas Kesehatan SBT, Punira Kilwalaga, mengingatkan masyarakat agar tidak lengah, terutama dalam menggunakan air hujan untuk kebutuhan sehari-hari.

Punira, mengungkapkan hasil pengukuran kualitas udara pada 15 Oktober 2026 menunjukkan penurunan signifikan dibandingkan pemeriksaan sebelumnya.

Meski demikian, sejumlah lokasi masih berada dalam kategori tidak sehat sehingga masyarakat tetap perlu melindungi diri dari paparan pencemaran.

“Jadi sudah dua kali pengukuran, di mana pengukuran sebelumnya itu statusnya berbahaya karena sangat tinggi angka PM-nya,” ujar Punira, Senin (19/10/2026).

Dia menjelaskan, setelah hujan mengguyur sejumlah wilayah, kondisi udara mengalami perbaikan.

Dari yang sebelumnya berstatus berbahaya, hasil pengukuran terbaru menunjukkan sebagian lokasi telah masuk kategori sehat, sementara lokasi lainnya masih tidak sehat.

“Alhamdulillah, itu sangat turun sekali. Akhirnya dari berbahaya menjadi ada yang sudah sehat, ada yang masih tidak sehat,” jelasnya.

Dirinya mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap risiko pencemaran telah sepenuhnya berakhir.

Warga tetap diminta menggunakan masker sesuai kondisi, menjaga sirkulasi udara di dalam rumah, serta mengikuti imbauan petugas kesehatan.

Punira juga menyoroti potensi pencemaran air hujan setelah kemarau panjang dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Warga diimbau tidak langsung menampung atau menggunakan air hujan sebelum memperhatikan kebersihan dan keamanannya.

Lebih lanjut, partikel kotoran yang masih berada di lingkungan berpotensi terbawa air hujan. Sebab itu, warga diminta tidak terburu-buru memanfaatkan air hujan untuk kebutuhan rumah tangga, terlebih untuk konsumsi, tanpa pengolahan yang aman.

“Media promosi lainnya juga sudah disebarkan melalui puskesmas untuk mengingatkan masyarakat agar tidak menampung dulu, karena masih kotor,” katanya.

Menurutnya, hujan yang mengguyur wilayah SBT juga belum merata. Kondisi ini membuat masyarakat perlu tetap waspada dan tidak serta-merta menganggap air hujan aman digunakan hanya karena udara terasa lebih bersih setelah hujan.

Pihaknya menggencarkan edukasi melalui puskesmas dan media promosi kesehatan untuk mengingatkan masyarakat mengenai bahaya pencemaran serta langkah perlindungan yang perlu dilakukan.

“Partikel-partikel ini masih ada. Karena itu, masyarakat harus tetap berhati-hati,” tutupnya. (RED)