BULA, TINTATIMUR.ID — Setelah puluhan tahun hidup tanpa penerangan listrik PLN, masyarakat Desa Tum dan Gusalau, Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), akhirnya dapat menikmati aliran listrik selama 24 jam.

Kehadiran listrik ini menjadi harapan baru bagi warga yang selama bertahun-tahun menantikan pemerataan pembangunan hingga ke wilayah mereka.

Kini, suasana malam di kedua desa tersebut mulai berubah. Rumah-rumah warga yang sebelumnya gelap telah diterangi cahaya lampu, sementara aktivitas rumah tangga dan kegiatan masyarakat menjadi lebih mudah dilakukan.

Kepala Desa Tum, Dekron Kilwalaga, menyampaikan apresiasi kepada PLN Bula atas upaya menghadirkan layanan listrik bagi masyarakat Tum dan Gusalau.

Menurutnya, masuknya listrik PLN merupakan perubahan besar bagi warga yang selama ini belum menikmati penerangan secara penuh.

“Kami masyarakat Tum dan Gusalau sangat berterima kasih kepada PLN. Mereka datang jauh-jauh demi rakyat agar kami tidak lagi hidup dalam kegelapan,” ujar Dekron saat dikonfirmasi melalui WhatsApp, Minggu (11/10/2026).

Dia menilai, kehadiran listrik bukan sekadar menghadirkan penerangan, tetapi juga membuka peluang bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat, terutama dalam bidang pendidikan, aktivitas rumah tangga, dan pengembangan ekonomi.

Lebih lanjut, dengan tersedianya listrik selama 24 jam, anak-anak kini memiliki kesempatan belajar lebih nyaman pada malam hari.

Masyarakat juga berpeluang mengembangkan usaha yang membutuhkan pasokan energi listrik.

Dekron turut menanggapi sorotan mengenai dugaan biaya pemasangan listrik di kedua desa tersebut. 

Dirinya menegaskan, berdasarkan pengetahuannya, pihak PLN tidak pernah meminta tambahan biaya kepada masyarakat.

“Pihak PLN tidak pernah meminta harga apa-apa dari kami masyarakat. Kalau ada yang memberikan, itu bentuk apresiasi kami,” tegasnya.

Dekron juga membantah adanya pemaksaan dalam pemasangan instalasi listrik di rumah warga. 

Ia meminta agar persoalan tersebut dilihat berdasarkan kondisi yang sebenarnya terjadi di lapangan sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.

Senada dengan itu, Ketua Pemuda Tum menyatakan bahwa masyarakat dan kalangan pemuda menyambut baik kehadiran PLN.

Dia juga membantah adanya pihak yang mengatasnamakan masyarakat Tum dalam persoalan tersebut.

Menurutnya, listrik telah menjadi kebutuhan mendasar yang dinantikan warga selama bertahun-tahun. Sebab itu, kehadiran layanan listrik PLN disambut sebagai langkah penting bagi kemajuan desa.

Meski demikian, masyarakat tentu berharap kehadiran listrik tidak berhenti pada menyalanya lampu di rumah-rumah warga.

Keberlanjutan pasokan, kualitas pelayanan, serta peluang pemanfaatan listrik untuk mendukung kegiatan produktif juga menjadi hal penting agar manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan.

"Bagi masyarakat Tum dan Gusalau, puluhan tahun penantian kini mulai terbayar. Cahaya yang menerangi rumah-rumah ini bukan hanya mengubah suasana malam, tetapi juga membuka harapan terhadap kehidupan yang lebih baik." Pungkasnya. (RED)