JAKARTA, TINTATIMUR.ID – Teriakan lantang "Lawamena Haulala, maju terus pantang mundur!" mengguncang Auditorium LPP TVRI Senayan, Jakarta, Jumat malam (29/05/2026). 

Seruan yang sarat makna perjuangan itu dikumandangkan Ketua DPRD Maluku, Benhur George Watubun, di tengah ribuan penonton yang memadati arena Pattimura International Big Fight 2026.

Dalam hitungan detik, suasana pertandingan berubah menjadi panggung kebangkitan semangat perjuangan rakyat Maluku. Penonton berdiri, bertepuk tangan, dan menyambut yel tersebut dengan antusias.

Bagi masyarakat Maluku, "Lawamena Haulala" bukan sekadar slogan, melainkan simbol keberanian, persatuan, dan tekad untuk terus maju menghadapi berbagai tantangan.

Momentum itu menjadi salah satu bagian paling berkesan dalam ajang tinju internasional yang digelar untuk memperingati 209 tahun perjuangan Kapitan Pattimura.

Di atas ring, Benhur menegaskan bahwa Pattimura International Big Fight tidak boleh dipandang hanya sebagai tontonan olahraga atau seremonial tahunan semata.

Menurutnya, ajang tersebut harus menjadi titik awal kebangkitan kembali tinju Indonesia yang dalam beberapa tahun terakhir kehilangan gaung di level internasional.

"Kegiatan ini bukan sekadar pertandingan tinju, tetapi momentum membangkitkan kembali semangat perjuangan Kapitan Pattimura sekaligus menghidupkan kejayaan tinju nasional," tegas Benhur.

Pernyataan tersebut bukan tanpa alasan. Indonesia pernah melahirkan petinju-petinju yang disegani di Asia hingga dunia. Namun dalam satu dekade terakhir, prestasi tinju nasional cenderung stagnan, sementara regenerasi atlet berjalan lambat akibat minimnya kompetisi berkualitas dan belum meratanya pembinaan di daerah.

Lantaran itu, Benhur menilai semangat perjuangan yang diwariskan Kapitan Pattimura harus diterjemahkan menjadi langkah nyata melalui investasi pembinaan atlet, penyelenggaraan kompetisi berjenjang, dan dukungan anggaran yang memadai bagi cabang olahraga prestasi.

Dalam kesempatan itu, ia menyampaikan penghormatan kepada Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, beserta jajaran Kabinet Merah Putih atas perhatian terhadap pembangunan olahraga nasional. 

Apresiasi juga diberikan kepada Kementerian Pemuda dan Olahraga, Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI), Pemerintah Provinsi Maluku dan Maluku Utara, serta seluruh pihak yang terlibat dalam menyukseskan event tersebut.

Dia turut menyampaikan terima kasih kepada Kepolisian Republik Indonesia atas dukungan pengamanan yang membuat seluruh rangkaian kegiatan berlangsung aman dan tertib.

Tak ketinggalan, apresiasi diberikan kepada TVRI yang dinilai memiliki peran historis dalam membesarkan olahraga tinju di Indonesia melalui siaran yang menjangkau seluruh pelosok negeri.
"Kita tepuk tangan untuk TVRI. Tanpa TVRI, tinju tidak ada arti apa-apa," ujarnya yang langsung disambut tepuk tangan meriah dari para penonton.

Pernyataan itu menggambarkan betapa pentingnya peran media dalam menjaga eksistensi olahraga yang pernah menjadi salah satu sumber kebanggaan bangsa.

Di tengah dominasi cabang olahraga populer lainnya, tinju membutuhkan lebih banyak ruang publikasi agar tetap hidup dan diminati generasi muda.

Menurutnya, Pattimura International Big Fight 2026 akhirnya bukan hanya soal siapa yang menang dan kalah di atas ring. Lebih dari itu, ajang ini menjadi pengingat bahwa semangat perjuangan Kapitan Pattimura masih hidup dan relevan hingga hari ini.

Namun tantangan sesungguhnya baru dimulai setelah lampu arena dipadamkan. Jika semangat "Lawamena Haulala" hanya berhenti sebagai yel-yel yang menggema di dalam gedung, maka kebangkitan tinju nasional akan tetap menjadi mimpi. 

"Jika semangat itu diterjemahkan menjadi program pembinaan yang serius, kompetisi yang berkelanjutan, dan keberpihakan nyata kepada atlet daerah, maka bukan tidak mungkin Indonesia kembali melahirkan petinju-petinju yang disegani di panggung dunia." Pungkasnya.(IDUL/MUS)