Jakarta, tintatimur.idMenteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat hingga mendekati level Rp17.800 per dolar AS tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini.

Pernyataan tersebut disampaikan setelah nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Selasa (26/5) berada di kisaran Rp17.795 per dolar AS atau melemah sekitar 52 poin dibanding perdagangan sebelumnya.

Menurut Purbaya, kondisi ekonomi nasional dinilai masih cukup baik sehingga pelemahan rupiah dianggap tidak sepenuhnya disebabkan oleh faktor fundamental ekonomi domestik.

Biasanya pelemahan terjadi apabila ada gangguan pada fundamental ekonomi, sementara saat ini kondisi ekonomi dinilai masih baik,” ujarnya di Jakarta Selatan, Rabu (27/5), dikutip dari detikfinance.

Terkait kemungkinan dilakukan pengujian ulang terhadap ketahanan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akibat pelemahan rupiah, Purbaya menyebut pemerintah belum melihat urgensi untuk melakukan perhitungan ulang.

Ia menjelaskan pemerintah sebelumnya telah melakukan simulasi terhadap berbagai kondisi ekonomi global, termasuk skenario kenaikan harga minyak dunia hingga mencapai 100 dolar AS per barel beserta dampaknya terhadap nilai tukar rupiah.

Selain itu, pemerintah juga menilai kondisi pasar obligasi domestik masih relatif terkendali. Menurut Purbaya, langkah stabilisasi yang dilakukan pemerintah di pasar Surat Berharga Negara (SBN) turut membantu menjaga tingkat imbal hasil (yield) obligasi agar tetap stabil.

Ia menyebut kondisi tersebut ikut mendorong masuknya aliran modal asing ke pasar obligasi Indonesia. Pemerintah juga memastikan akan terus melakukan langkah-langkah lanjutan guna menjaga stabilitas pasar keuangan dan nilai tukar rupiah.

Pemerintah berharap stabilitas pasar obligasi dan arus investasi yang tetap terjaga dapat membantu memperkuat kepercayaan investor terhadap kondisi ekonomi Indonesia di tengah dinamika ekonomi global. Rill/red