AMBON, TINTATIMUR.ID - Di tengah berbagai tantangan pembangunan sumber daya manusia di Maluku, secercah harapan datang dari Pemerintah Perancis.

Negara Eropa tersebut membuka peluang beasiswa pendidikan doktoral (PhD) bagi putra-putri Indonesia, termasuk Maluku, melalui kerja sama dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

Peluang itu mengemuka saat Duta Besar Perancis untuk Indonesia, Fabien Penone, melakukan kunjungan resmi ke Kantor Gubernur Maluku dan bertemu dengan Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, di Ambon, Senin (15/06/2026).

Pertemuan tersebut tidak sekadar membahas hubungan diplomatik, tetapi juga membuka peluang konkret bagi pengembangan kualitas sumber daya manusia Maluku melalui pendidikan tinggi, riset, hingga penguatan pendidikan vokasi.

Gubernur Hendrik Lewerissa menyambut positif tawaran kerja sama tersebut. Menurutnya, Maluku membutuhkan lebih banyak tenaga akademisi, peneliti, dan sumber daya manusia unggul yang mampu menjawab berbagai tantangan pembangunan daerah.

"Indonesia dan Perancis memiliki hubungan bilateral yang sangat baik. Kehadiran Duta Besar Perancis di Maluku menjadi kesempatan penting untuk memperkuat kerja sama, khususnya di sektor pendidikan dan pariwisata," ujar Lewerissa.

Orang nomor satu di Maluku ini menjelaskan bahwa balik peluang yang terbuka, tersimpan pekerjaan rumah besar yang harus dijawab Pemerintah Daerah.

Selama ini, akses masyarakat Maluku terhadap pendidikan berkualitas dan kesempatan studi ke luar negeri masih tergolong terbatas dibanding sejumlah daerah lain di Indonesia.

Karena itu, tawaran beasiswa dan kerja sama pendidikan dari Perancis dinilai tidak boleh berhenti sebagai seremoni diplomatik semata, melainkan harus diikuti langkah nyata agar generasi muda Maluku benar-benar mampu memanfaatkannya.

Selain pendidikan tinggi, kerja sama juga diarahkan pada penguatan pendidikan vokasi. Hal ini menjadi penting mengingat Maluku saat ini memiliki sekitar 120 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), termasuk lima SMK Pariwisata yang membutuhkan dukungan peningkatan kualitas tenaga pengajar, kurikulum, hingga keterampilan siswa.

Perancis yang dikenal sebagai salah satu pusat industri pariwisata dan perhotelan dunia, siap berbagi pengalaman melalui program pelatihan, pendampingan, riset, dan peningkatan kapasitas bagi sekolah-sekolah vokasi di Maluku.

"Kerja sama ini akan diarahkan pada pengembangan pendidikan vokasi, pelatihan, riset hingga pendidikan lanjutan. Perancis memiliki pengalaman yang sangat maju di sektor pariwisata dan perhotelan yang dapat menjadi referensi bagi Maluku," jelas Lewerissa.


Sementara itu, Duta Besar Perancis Fabien Penone menegaskan komitmen negaranya dalam mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Salah satu bentuk dukungan tersebut adalah penyediaan program doktoral bagi 40 peserta melalui skema LPDP.

"Kami akan memiliki program PhD untuk 40 orang yang akan melanjutkan pendidikan melalui LPDP," kata Penone.

Peluang ini menjadi kabar baik bagi Maluku yang selama ini masih berjuang meningkatkan indeks pembangunan manusia dan daya saing tenaga kerja.

Jika dimanfaatkan secara maksimal, program tersebut dapat melahirkan generasi akademisi, peneliti, dan profesional Maluku yang mampu bersaing di tingkat internasional.

Kini, tantangan berikutnya berada di tangan pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dan generasi muda Maluku sendiri. Sebab membuka akses adalah langkah awal, sementara memastikan anak-anak Maluku mampu menembus dan memanfaatkan peluang global adalah pekerjaan besar yang harus diwujudkan bersama.

Jangan sampai kesempatan emas ini hanya menjadi kabar baik yang berlalu. Maluku membutuhkan lebih banyak doktor, peneliti, dan tenaga profesional yang lahir dari daerah, kembali ke daerah, dan membangun daerah.(RED)