BULA, TINTATIMUR.ID Selama hampir 20 tahun, petani di kawasan Transmigrasi Waikudal, Desa Batuwasa, Kecamatan Werinama, mengaku tidak pernah merasakan bantuan alat dan mesin pertanian dari pemerintah.

Kondisi itu menjadi potret panjang minimnya perhatian terhadap kawasan yang kini justru diproyeksikan menjadi sentra produksi beras baru di Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT).

Menanggapi kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten SBT melalui Dinas Pertanian menyalurkan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) kepada petani Trans Waikudal, Selasa (07/07/2026).

Langkah tersebut dilakukan sebagai realisasi janji yang disampaikan saat kunjungan lapangan sekitar tiga pekan lalu.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian SBT, Sofyan Waraiya, mengakui bahwa aspirasi para petani menjadi alasan utama pemerintah bergerak cepat.

"Kami berjanji akan memperhatikan kebutuhan mereka. Hari ini kami hadir untuk memenuhi apa yang menjadi keinginan teman-teman petani dengan memberikan alat dan mesin pertanian," ujarnya.

Dia menjelaskan bahwa bantuan yang diserahkan kepada Unit Pelayanan Jasa Alat dan Mesin Pertanian (UPJA) Trans Waikudal meliputi satu unit traktor roda empat (jonder), dua unit hand tractor, dua unit mesin tanam padi, dan dua unit pompa air (alkon).

Dirinya mengatakan pihaknya menargetkan penanaman perdana dapat dilakukan dalam waktu sekitar satu bulan ke depan.

"Kami berharap alsintan ini dimanfaatkan sebaik-baiknya agar pengolahan lahan berjalan lebih mudah dan target penanaman perdana dapat segera terealisasi," katanya.

Ia menegaskan, kolaborasi pemerintah kecamatan, pemerintah desa, TNI melalui Danramil dan Babinsa, serta masyarakat menjadi faktor penting agar seluruh areal persawahan dapat digarap secara optimal.

Di balik program tersebut, tersimpan persoalan yang lebih besar. Tingginya harga beras di Kecamatan Werinama menjadi bukti bahwa wilayah ini masih bergantung pada pasokan dari luar daerah.

Lebih lanjut, saat ini harga beras di Desa Batuwasa mencapai sekitar Rp25.000 per kilogram, hampir dua kali lipat dibandingkan harga beras di sentra produksi Kecamatan Bula Barat yang berkisar Rp12.500 per kilogram.

Sebab itu, keberhasilan pengembangan sawah Trans Waikudal bukan hanya soal membuka lahan baru, tetapi juga menjadi ujian bagi keseriusan pemerintah dalam mewujudkan kemandirian pangan di wilayah timur SBT.

"Kalau 141 hektare ini bisa tertanam dan berproduksi, minimal kebutuhan beras masyarakat di Werinama, Siwalalat hingga Kelimuri dapat terpenuhi dengan harga yang lebih terjangkau," pungkasnya. (RED)