Oleh: Siti Khoiriyah Hatala (Mahasiswi Program Studi Ekonomi Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Universitas Islam Negeri Abdul Muthalib Sangadji Ambon)

TINTATIMUR.IDAda sebuah kebanggaan yang sulit dijelaskan ketika nama Maluku kembali dibawa ke ruang yang lebih luas. Bukan karena ingin menunjukkan bahwa kita lebih hebat dari daerah lain, tetapi karena ada keyakinan bahwa dari timur Indonesia pun dapat lahir anak-anak muda yang berani bermimpi, berkarya, dan mengambil bagian dalam perjalanan Indonesia.

Pada tahun 2026, saya mendapat amanah untuk ditetapkan sebagai Duta Generasi Muda Berbakat Indonesia Batch 3, mewakili Universitas Islam Negeri Abdul Muthalib Sangadji Ambon sekaligus menjadi satu-satunya perwakilan Provinsi Maluku untuk periode 2026–2027.

Bagi saya, penetapan ini bukan sekadar gelar. Ia adalah pengingat bahwa setiap kesempatan selalu datang bersama tanggung jawab.

Menjadi duta bukan berarti kita telah menjadi yang paling hebat. Justru sebaliknya, gelar tersebut seharusnya membuat kita semakin sadar bahwa masih banyak hal yang harus dipelajari, diperjuangkan, dan diberikan kepada lingkungan sekitar.

Saya percaya, menjadi generasi muda bukan hanya tentang usia. Menjadi generasi muda berarti memiliki keberanian untuk bertanya, keberanian untuk mencoba, dan keberanian untuk mengambil peran ketika melihat sesuatu yang perlu diperbaiki.

Dan hari ini, pertanyaan yang ingin saya ajukan bukan hanya kepada diri saya sendiri, tetapi kepada kita semua:

Ke mana generasi muda Maluku akan membawa daerah ini?

Maluku bukan sekadar gugusan pulau di timur Indonesia. Maluku adalah rumah bagi kekayaan laut, budaya, adat istiadat, sejarah, serta kearifan lokal yang tidak ternilai. Dari tanah ini lahir banyak cerita tentang keberanian, persaudaraan, dan perjuangan.

Namun, kekayaan tersebut tidak akan memiliki arti yang besar apabila generasi mudanya hanya menjadi penonton.

Kita tidak bisa terus mengatakan bahwa Maluku memiliki potensi besar tanpa kemudian bertanya: siapa yang akan mengelola potensi itu?

Siapa yang akan memperkenalkan kekayaan budaya Maluku kepada Indonesia dan dunia?

Siapa yang akan mengembangkan ekonomi lokal?

Siapa yang akan menciptakan inovasi?

Siapa yang akan menjaga lingkungan?

Dan siapa yang akan memastikan bahwa kemajuan tidak membuat kita kehilangan identitas?

Jawabannya adalah kita.

Generasi muda Maluku.

Saya percaya, perubahan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Terkadang perubahan dimulai dari seorang mahasiswa yang berani membuat penelitian tentang persoalan di daerahnya. Dari anak muda yang memilih membangun usaha daripada hanya menunggu pekerjaan. Dari pemuda yang memperkenalkan budaya daerahnya melalui ruang digital. Dari komunitas kecil yang membersihkan lingkungan. Dari seseorang yang berani mengatakan bahwa daerahnya layak mendapatkan masa depan yang lebih baik.

Karena itu, saya ingin melihat lebih banyak anak muda Maluku yang tidak takut bermimpi besar.

Bukan berarti kita harus meninggalkan Maluku untuk menjadi sukses. Jika kesempatan membawa kita pergi untuk belajar, maka pergilah dengan membawa nama Maluku. Tetapi ketika suatu hari kita memiliki pengetahuan, pengalaman, jaringan, dan kemampuan, jangan lupa untuk bertanya kepada diri sendiri:

Apa yang bisa saya bawa pulang untuk tanah saya?

Pertanyaan itu penting karena pendidikan seharusnya tidak berhenti pada gelar.

Begitu pula dengan kampus.

Sebagai bagian dari keluarga besar UIN Abdul Muthalib Sangadji Ambon, saya melihat kampus bukan hanya sebagai tempat untuk memperoleh pendidikan formal. Kampus seharusnya menjadi ruang untuk melahirkan gagasan, inovasi, kepemimpinan, kewirausahaan, penelitian, dan pengabdian yang benar-benar menyentuh persoalan masyarakat.

Mahasiswa tidak seharusnya hanya sibuk bertanya, “Setelah lulus saya akan bekerja di mana?”

Tetapi juga perlu mulai bertanya:

“Selama menjadi mahasiswa, perubahan apa yang sudah saya mulai?”

Sebab masa muda tidak datang dua kali.

Hari ini kita memiliki tenaga untuk bergerak, kesempatan untuk belajar, dan keberanian untuk mencoba. Jangan sampai semuanya habis hanya untuk mengejar pengakuan.

Prestasi memang penting. Gelar memang membanggakan. Penghargaan memang layak dirayakan.

Tetapi yang jauh lebih penting adalah dampak setelahnya.

Bagi saya, menjadi Duta Generasi Muda Berbakat Indonesia bukan tentang berdiri paling depan atau menggunakan sebuah gelar di belakang nama. Amanah ini justru menjadi ruang untuk belajar lebih banyak, bertemu lebih banyak orang, membangun kolaborasi, dan berusaha menghadirkan sesuatu yang bermanfaat bagi generasi muda.

Saya ingin menjadikan kesempatan ini sebagai jembatan.

Jembatan antara anak muda Maluku dan ruang-ruang nasional.

Jembatan antara potensi daerah dan inovasi.

Jembatan antara pendidikan dan pengabdian.

Serta jembatan antara mimpi seorang anak muda dengan kontribusi nyata untuk daerahnya.

Saya percaya Maluku tidak kekurangan anak muda hebat.

Yang kita butuhkan adalah lebih banyak ruang untuk tumbuh, lebih banyak kesempatan untuk berkarya, lebih banyak keberanian untuk mengambil peran, dan lebih banyak kolaborasi untuk mengubah gagasan menjadi kenyataan.

Karena itu, kepada generasi muda Maluku, saya ingin mengatakan:

Jangan merasa kecil hanya karena kita berasal dari timur Indonesia

Jangan merasa bahwa kesempatan besar hanya milik mereka yang tinggal di kota-kota besar.

Jangan merasa bahwa mimpi kita terlalu tinggi.

Kita boleh berasal dari pulau kecil, tetapi mimpi kita tidak harus kecil.

Kita boleh tumbuh jauh dari pusat Indonesia, tetapi kontribusi kita bisa sampai ke seluruh Indonesia.

Dan kita boleh memulai dari sesuatu yang sederhana, karena perubahan besar selalu memiliki titik awal.

Saya mungkin hari ini dipercaya membawa nama Maluku sebagai Duta Generasi Muda Berbakat Indonesia. Namun saya tidak ingin perjalanan ini menjadi perjalanan seorang diri.

Saya ingin ada lebih banyak anak muda Maluku yang berani melangkah.

Lebih banyak mahasiswa yang berani berkarya.

Lebih banyak pemuda yang berani membangun usaha.

Lebih banyak generasi muda yang menjaga budaya dan lingkungan.

Lebih banyak anak Maluku yang membawa gagasan dari pulau-pulau kecil menuju panggung nasional.

Sebab pada akhirnya, masa depan Maluku bukan hanya tanggung jawab pemerintah, bukan hanya tanggung jawab kampus, dan bukan hanya tanggung jawab tokoh-tokoh masyarakat.

Masa depan Maluku juga berada di tangan generasi mudanya.

Maka mari berhenti menunggu perubahan datang kepada kita.

Mari menjadi bagian dari perubahan itu.

Dari Maluku, kita belajar bahwa laut yang memisahkan pulau-pulau ternyata tidak harus memisahkan mimpi.

Dari Maluku, kita bisa membuktikan bahwa keterbatasan geografis bukan alasan untuk membatasi prestasi.

Dan dari Maluku, mari kita kirimkan satu pesan kepada Indonesia:

Kami ada. Kami mampu. Dan kami siap mengambil bagian.

“Untuk samua anak muda Maluku, jang pernah rasa kecil cuma karena katong berasal dari timur. Katong pung mimpi seng kalah besar deng siapa-siapa. Katong mungkin mulai dari pulau-pulau kecil, tapi katong bisa melangkah jauh. Jang takut mencoba, jang takut gagal, dan jang tunggu sempurna baru mulai. Mari katong terus belajar, berkarya, dan bawa nama Maluku dalam setiap langkah. Karena katong pung masa depan bukan cuma tentang apa yang katong mau jadi, tapi tentang apa yang katong bisa kasih pulang untuk tanah ini. Katong bisa, katong mampu, dan katong pung mimpi layak untuk diperjuangkan.”