AMBON, TINTATIMUR.ID – Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa turun tangan menyikapi pertikaian antara warga Desa Lisabata dan Desa Patahuwe, Kecamatan Taniwel, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB).
Orang nomor satu di Maluku ini meminta kedua pihak menahan diri, menghentikan pertikaian, dan tidak membuka ruang bagi aksi balas dendam yang berpotensi memperluas eskalasi konflik.
“Saya ucapkan keprihatinan yang mendalam atas konflik antarwarga Lisabata dan Patahuwe di Kecamatan Taniwel,” kata Hendrik, Sabtu (12/09/2026).
Gubernur menegaskan, masyarakat tidak boleh mengambil tindakan sendiri. Setiap persoalan harus diselesaikan melalui jalur hukum serta komunikasi yang mengedepankan kepentingan bersama.
“Saya meminta kepada semua warga untuk menahan diri dan menghentikan pertikaian. Tidak boleh ada aksi balas dendam yang dapat memperluas eskalasi konflik,” tegasnya.
Dia juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang beredar di media sosial.
Menurutnya, penyebaran isu yang tidak jelas justru dapat memperkeruh keadaan dan memperbesar persoalan.
Lebih lanjut, Ketua DPW Gerindra Provinsi Maluku ini meminta agar pertikaian tersebut tidak digeser menjadi persoalan suku, agama maupun kelompok.
“Ini murni kesalahpahaman, bukan konflik SARA. Jangan ada yang membawa ini ke ranah kelompok, suku atau agama yang dapat merusak tatanan persaudaraan di Maluku,” tuturnya.
Dirinya meminta masyarakat mempercayakan penanganan situasi kepada aparat keamanan, termasuk proses penegakan hukum terhadap pihak-pihak yang terbukti memicu pertikaian.
“Saya meminta mempercayakan semua kepada aparat keamanan dan penegakan hukum, kepada TNI dan Polri, serta tindak tegas aktor yang memicu pertikaian,” katanya.
Pemerintah Provinsi Maluku, lanjut Hendrik, terus berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten SBB untuk mengambil langkah-langkah sesuai kewenangan masing-masing guna menjaga situasi tetap terkendali.
Tak hanya mengandalkan aparat keamanan, Hendrik juga mendorong peran aktif para tokoh di kedua desa. Tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh perempuan, tokoh pemuda dan pemerintah setempat diminta segera duduk bersama membuka ruang dialog dan musyawarah.
“Saya mengajak kepada tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh perempuan, tokoh pemuda dan pemerintah setempat untuk segera duduk bersama, mengutamakan jalur dialog, musyawarah dan semangat kekeluargaan, demi mengembalikan kedamaian di Desa Patahuwe dan Lisabata,” tuturnya.
Hendrik berharap seluruh elemen masyarakat tidak membiarkan persoalan tersebut berkembang menjadi konflik yang lebih besar. Menurutnya, keamanan dan kedamaian merupakan tanggung jawab bersama.
“Mari bersama-sama menjaga kondusivitas daerah demi terselenggaranya akselerasi pembangunan di Bumi Raja-Raja yang katong cintai bersama,” ajaknya.
Ia pun mengajak seluruh masyarakat Maluku menjaga persaudaraan dan tidak memberi ruang bagi provokasi yang dapat memecah-belah kehidupan sosial.
“Himbauan ini saya sampaikan, semoga Tuhan Yang Maha Esa memberikan perlindungan, kedamaian dan keselamatan par katong samua,” tutupnya. (RED)

0Komentar