BULA, TINTATIMUR.ID - Tradisi Tikan Dabus kembali menyedot perhatian publik saat perayaan Hari Raya Idul Adha 1447 H di Desa Kwaos, Kecamatan Siritaun Wida Timur, Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), Kamis (28/05/2026).
Di tengah gempuran modernisasi, warga setempat justru memilih bertahan menjaga atraksi budaya warisan leluhur itu. Generasi muda dilibatkan langsung dalam setiap pertunjukan sebagai upaya regenerasi pelaku tradisi.
Usai pelaksanaan salat Idul Adha, warga berduyun-duyun menyaksikan pertunjukan Tikan Dabus. Atraksi digelar sambil mengarak hewan kurban mengelilingi jalan desa menuju lokasi penyembelihan.
Tarian yang menampilkan kekebalan tubuh terhadap benda tajam itu diiringi tabuhan rebana dan lantunan syair bernuansa Islam. Alunan musik dan sorak warga menciptakan suasana meriah di sepanjang jalan desa.
Bagi masyarakat Kwaos, Tikan Dabus bukan sekadar tontonan. Tradisi ini dimaknai sebagai simbol keberanian, pemersatu warga, sekaligus bentuk penghormatan terhadap adat yang diwariskan turun-temurun.
"Kalau bukan kami yang jaga, nanti tradisi ini bisa hilang. Karena itu sekarang anak-anak muda seperti kami harus ikut belajar," ujar Sehan Masaa, salah satu peserta dabus.
Menurutnya, keterlibatan anak muda menjadi kunci agar Tikan Dabus tetap bertahan di tengah perubahan zaman. Tanpa regenerasi, ia khawatir tradisi itu hanya tinggal cerita.
Sebelum atraksi dimulai, para pemain melakukan doa bersama dan dzikir. Prosesi ini menjadi bagian tak terpisahkan dari laku adat dan spiritual masyarakat setempat.
Atraksi menusukkan benda tajam ke tubuh tanpa luka parah itu selalu jadi magnet warga. Tak hanya saat Idul Adha, Tikan Dabus juga rutin ditampilkan di berbagai acara adat lainnya.
"Tradisi ini bukan sekadar pertunjukan. Ini peninggalan leluhur yang harus tetap dipertahankan," tuturnya.
Masyarakat Desa Kwaos berharap Tikan Dabus terus dilestarikan. Mereka juga mendorong pemerintah daerah memberi perhatian serius sebagai bagian dari kekayaan budaya lokal.
"Kalau bisa dilestarikan secara terus-menerus, ini bisa jadi kekayaan budaya lokal di tingkat tertinggi, asal pemerintah kasih perhatian serius," pungkasnya. Redaksi.

0Komentar