BULA, TINTATIMUR.ID - Keluarga Bahrum Ohoirat dan Hasti Sula hidup dalam sebuah rumah sederhana yang kondisinya memprihatinkan.
Pasalnya, saat hujan turun, air masuk dari berbagai sisi atap yang hanya ditutupi seng tua dan lembaran terpal tambalan.
Rumah kecil itu menjadi tempat berteduh bagi sepuluh anggota keluarga. Delapan anak mereka harus berbagi ruang sempit untuk tidur dan beristirahat setiap hari.
Hal tersebut disampaikan Ibu Hasti Sula, kepada Tintatimur.id pada, Senin (22/06/2026).
"Kalau hujan turun, kami tidak bisa tidur nyenyak. Air masuk sampai ke dalam kamar. Kami hanya bisa memasang terpal untuk menahan bocoran," kenang Hasti.
Kondisi tersebut berlangsung selama bertahun-tahun. Bahkan sejak beberapa tahun terakhir, sebagian atap rumah hanya mengandalkan terpal sebagai pelindung utama dari cuaca buruk.
Dalam keterbatasan itu, Hasti tetap berjuang mencari nafkah tambahan dengan berdagang kelapa, sementara sang suami bekerja demi memenuhi kebutuhan keluarga.
Tidak pernah terlintas dalam benaknya bahwa suatu hari akan ada pihak yang datang membantu membangun rumah layak huni bagi keluarganya.
Harapan itu akhirnya menjadi kenyataan setelah Polres Seram Bagian Timur turun tangan membangun rumah baru melalui program bedah rumah.
Kini, keluarga Bahrum tidak lagi dihantui rasa cemas setiap kali hujan turun. Delapan anak mereka memiliki tempat tinggal yang lebih aman dan nyaman untuk tumbuh serta belajar.
"Dulu kami hanya bisa berdoa. Sekarang Allah menjawab doa itu lewat orang-orang baik yang membantu kami," tutur Hasti penuh haru.
Rumah sederhana yang berdiri kokoh itu mungkin tak semewah bangunan lainnya. Namun bagi keluarga Bahrum Ohoirat, rumah tersebut adalah hadiah terindah yang mengakhiri puluhan tahun perjuangan hidup dalam keterbatasan.(RED)

0Komentar