BULA, TINTATIMUR.ID - Perjuangan Pemerintah Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) menjadikan sagu sebagai motor penggerak ekonomi daerah mulai menunjukkan hasil, Jumat (19/06/2026).

Gagasan hilirisasi sagu yang digaungkan Bupati SBT, Fachri Husni Alkatiri, kini mendapat respons positif dari Pemerintah Pusat (Pempus), mulalui pembukaan sejumlah skema Dana Alokasi Khusus (DAK) pada tiga kementerian.

Bahkan, jika seluruh skema bantuan tersebut terealisasi, SBT berpeluang memperoleh tambahan anggaran hingga sekitar Rp75 miliar untuk mendukung pengembangan industri sagu dari hulu hingga hilir.

Kabar menggembirakan itu disampaikan Bupati Fachri Husni Alkatiri saat membuka Bimbingan Teknis (Bimtek) e-Katalog bagi pengguna dan penyedia jasa di Aula Pendopo Bupati SBT.

Menurut Fachri, sinyal kuat dukungan pemerintah pusat terlihat dari dibukanya menu DAK bertema hilirisasi sagu oleh Kementerian Pertanian, Kementerian Perindustrian, dan Kementerian Pekerjaan Umum (PU).

"Paling tidak tanda-tanda baiknya sudah kelihatan dengan dibukanya menu dana alokasi khusus di tiga kementerian. Jadi tiga kementerian ini sudah membuka tema atau menu dana alokasi khusus untuk Kabupaten SBT dan temanya adalah hilirisasi sagu," ujarnya.

Dia menjelaskan, di Kementerian Pertanian terdapat satu menu khusus yang diperuntukkan bagi program hilirisasi sagu.

Dari ratusan daerah di Indonesia, hanya 29 kabupaten yang masuk dalam skema tersebut dan SBT menjadi salah satu yang berpeluang mendapatkan dukungan anggaran.

"Di Kementerian Pertanian ada satu menu khusus berkait dengan hilirisasi sagu dan SBT akan mendapat dana alokasi khusus. Angkanya belum karena masih dibahas," jelasnya.

Tak hanya itu, perhatian pemerintah pusat juga datang dari Kementerian Perindustrian (Kemenperin). Melalui program pengembangan sentra industri kecil berbasis sagu, hanya tiga daerah di Indonesia yang menjadi sasaran program tersebut, yakni Kabupaten Seram Bagian Timur, Kabupaten Nias dan Kabupaten Lingga.

"Untuk bantuan pengembangan sentra industri kecil yang berkait dengan tema hilirisasi sagu, hanya tiga daerah yang mendapatkannya, yaitu SBT, Nias dan Lingga," katanya.

Lebih lanjut, Kementerian Pekerjaan Umum dikabarkan menyiapkan dukungan pembangunan infrastruktur berupa lima ruas jalan poros yang akan menghubungkan kawasan produksi sagu dengan sentra industri pengolahan.

"Seluruh Maluku, Maluku Utara dan Papua, hanya SBT yang dibuka menu dana alokasi khusus itu. Ini tentu menjadi peluang besar yang harus kita manfaatkan," tegasnya.

Meski besaran anggaran yang akan diterima masih dalam tahap pembahasan, Fachri memperkirakan nilainya bisa mencapai puluhan miliar rupiah.

Jika setiap kementerian mengalokasikan dana sekitar Rp20 hingga Rp25 miliar, maka total anggaran yang masuk ke SBT dapat menyentuh angka Rp75 miliar.

"Saya belum tahu total angkanya. Tapi kalau satu kementerian saja membantu Rp20 sampai Rp25 miliar, berarti di tiga kementerian itu paling tidak ada sekitar Rp75 miliar yang akan menjadi dana alokasi khusus untuk SBT," bebernya.

Fachri menilai, dukungan yang mulai mengalir dari pemerintah pusat merupakan bukti bahwa hilirisasi sagu SBT semakin mendapat perhatian di tingkat nasional. 

Karena itu, orang nomor satu di SBT ini meminta seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) tidak hanya menjadi penonton, tetapi turut menyiapkan langkah konkret sesuai tugas dan kewenangan masing-masing.

Sebab, jika terealisasi, program ini tidak hanya menghadirkan tambahan anggaran bagi daerah, tetapi juga membuka jalan bagi lahirnya industri berbasis sagu.

Peningkatan nilai tambah komoditas lokal, penciptaan lapangan kerja, hingga penguatan posisi SBT sebagai salah satu pusat sagu terbesar di Indonesia.

"Ini tanda yang baik dan harus kita syukuri. Semua OPD harus mulai berpikir apa yang bisa disumbangkan untuk menyukseskan SBT sebagai lokus Proyek Strategis Nasional hilirisasi sagu," pungkasnya.(RED)