BULA, TINTATIMUR.ID - Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) semakin dekat dengan status sebagai lokus Proyek Strategis Nasional (PSN) Hilirisasi Sagu, Jumat (19/06/2026).
Dari tiga daerah yang mengusulkan program tersebut ke pemerintah pusat, SBT disebut sebagai wilayah yang paling layak dan paling siap untuk didorong menjadi PSN.
Penilaian itu disampaikan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dalam pembahasan bersama pemerintah pusat terkait usulan hilirisasi sagu yang diajukan Kabupaten Nias, Kabupaten Lingga, dan Kabupaten Seram Bagian Timur.
Bupati SBT, Fachri Husni Alkatiri, mengatakan perkembangan tersebut menjadi kabar menggembirakan sekaligus bukti bahwa perjuangan daerah dalam mengangkat sagu sebagai kekuatan ekonomi baru mulai mendapat perhatian serius di tingkat nasional.
"Apa yang jadi ikhtiar kita bersama dari awal, mengusung tema Hilirisasi Sagu, Alhamdulillah semakin memperlihatkan ujung yang terang," ujarnya.
Menurutnya, hasil Focus Group Discussion (FGD) bersama Bappenas menunjukkan bahwa SBT memiliki peluang terbesar dibanding dua daerah lainnya.
Dalam pertemuan itu, Tenaga Ahli Bupati SBT, Ahmad Mony, yang berada di Jakarta turut hadir untuk mengawal langsung pembahasan usulan tersebut.
"Bappenas mengatakan bahwa dari tiga daerah yang mengusulkan PSN terkait hilirisasi sagu, yaitu Nias, Lingga dan SBT, yang dianggap paling layak untuk didorong menjadi PSN adalah SBT," katanya.
Pernyataan tersebut menjadi angin segar bagi daerah yang selama ini dikenal memiliki hamparan hutan sagu yang luas dan belum dikelola secara optimal.
Jika ditetapkan sebagai PSN, SBT berpeluang menjadi pusat pengembangan industri sagu nasional yang terintegrasi dari sektor produksi hingga pengolahan.
Fachri mengungkapkan, gagasan hilirisasi sagu bukanlah ide yang lahir secara tiba-tiba. Program itu telah diperjuangkan sejak awal dirinya menjabat sebagai Bupati SBT.
Bahkan, salah satu agenda pertama yang ia bawa ke pemerintah pusat setelah dilantik pada Februari 2025 adalah mendorong sagu menjadi program prioritas nasional.
Orang nomor satu di SBT ini meyakini hilirisasi sagu sangat erat kaitannya dengan sektor pertanian. Namun dalam perjalanan advokasi di Jakarta.
Justru Kementerian Perindustrian yang melihat potensi besar program tersebut sebagai bagian dari penguatan industri berbasis sumber daya lokal.
"Saya awalnya berpikir hilirisasi sagu sangat linier dengan Kementerian Pertanian karena pertama kali saya bicara soal ini di sana. Tapi ternyata dalam prosesnya, justru Kementerian Perindustrian yang paling kuat mendorong gagasan hilirisasi sagu," tuturnya.
Lebih lanjut, sebelum SBT masuk dalam pembahasan nasional, Kementerian Perindustrian lebih dulu mempertimbangkan Nias dan Lingga sebagai calon lokus PSN Hilirisasi Sagu.
Namun setelah dilakukan pendalaman, kapasitas bahan baku dan potensi pengembangan industri di kedua daerah tersebut dinilai belum sekuat yang dimiliki SBT.
Sebaliknya, SBT dianggap memiliki kombinasi yang lengkap, mulai dari ketersediaan bahan baku yang melimpah, luas kawasan sagu, hingga komitmen pemerintah daerah dalam memperjuangkan program tersebut.
Bahkan, kata Fachri, sejumlah pihak di Kementerian Perindustrian mengaku menyesal baru mengetahui potensi besar sagu di SBT setelah proses usulan berjalan.
"Mereka bilang, Pak Bupati, kalau kami tahu potensi SBT dari awal, justru SBT yang akan kami usulkan sebagai usulan pemerintah pusat untuk menjadi PSN," pungkasnya.(RED)

0Komentar