AMBON, TINTATIMUR.ID - Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kota Ambon menggagas sebuah ide besar di tengah derasnya arus digitalisasi dan tantangan pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM).

Menjadikan Ambon bukan hanya sebagai Kota Musik Dunia, tetapi juga sebagai Kota Literasi yang berakar pada nilai-nilai lokal dan semangat kebersamaan masyarakat.

Gagasan tersebut disampaikan Ketua Bidang Riset dan Pengembangan Keilmuan PC IMM Kota Ambon, Aswad Lesnussa, kepada Tintatimur.id, Kamis (26/06/2026).

Dia menilai bahwa masa depan Ambon tidak cukup dibangun melalui infrastruktur dan pembangunan fisik semata, melainkan harus diperkuat dengan budaya berpikir, membaca, menulis, dan berdiskusi.

Menurutnya, Ambon memiliki modal sejarah dan kebudayaan yang sangat besar untuk berkembang menjadi pusat literasi di kawasan timur Indonesia.

Sebagai kota yang sejak dahulu menjadi titik pertemuan berbagai peradaban, Ambon menyimpan kekayaan pengetahuan yang belum sepenuhnya diolah dan diwariskan kepada generasi muda.

"Ambon memiliki banyak cerita besar, sejarah besar, dan tokoh-tokoh hebat. Semua itu harus ditulis, dibaca, dan diwariskan. Jangan sampai generasi muda lebih mengenal sejarah daerah lain dibanding sejarah kotanya sendiri," ujarnya.

Aswad menegaskan, literasi tidak boleh dipahami secara sempit sebagai kemampuan membaca dan menulis semata.

Literasi merupakan kemampuan masyarakat dalam berpikir kritis, memahami persoalan sosial, menyaring informasi, serta membangun karakter yang kuat di tengah perkembangan zaman.

Sebab itu, IMM Kota Ambon mengusung semangat "Ambon Par Samua, Literasi Par Masa Depan" sebagai gerakan kolektif untuk membangun kesadaran intelektual masyarakat.

Lebih lanjut, filosofi lokal "Beta Par Ambon, Ambon Par Samua" mengandung nilai persaudaraan, kepedulian, dan tanggung jawab bersama yang sangat relevan dijadikan fondasi gerakan literasi.

"Literasi harus menjadi gerakan semua orang. Tidak boleh hanya hidup di kampus atau sekolah. Literasi harus hadir di rumah ibadah, komunitas pemuda, lingkungan masyarakat, hingga ruang-ruang publik," katanya.

Dirinya juga menyoroti rendahnya minat baca dan budaya diskusi yang masih menjadi tantangan di berbagai daerah, termasuk Ambon. 

Padahal, kata dia, daerah yang kuat secara literasi akan melahirkan generasi yang lebih siap menghadapi persaingan global.

Oganisasi kemahasiswaan memiliki tanggung jawab moral untuk berada di garis depan dalam menghidupkan budaya literasi melalui diskusi publik, rumah baca, pelatihan kepenulisan, riset sosial, hingga penguatan literasi digital.

"Mahasiswa tidak boleh hanya menjadi penonton perubahan. Mahasiswa harus menjadi penggerak yang menjembatani ilmu pengetahuan dengan kebutuhan masyarakat," tegasnya.

Lebih jauh, Aswad mengingatkan bahwa kualitas kepemimpinan masa depan sangat ditentukan oleh budaya literasi hari ini. 

Seorang pemimpin tidak hanya dibentuk oleh kemampuan berbicara, tetapi juga oleh tradisi membaca, meneliti, dan berpikir kritis.

"Kalau hari ini kita gagal membangun budaya literasi, maka kita juga sedang mempertaruhkan kualitas pemimpin Ambon di masa depan," tuturnya.

Ia berharap Pemerintah Kota Ambon dapat menjadikan penguatan budaya literasi sebagai salah satu agenda strategis pembangunan daerah. 

Sebab, keberhasilan membangun kota tidak hanya diukur dari megahnya bangunan dan infrastruktur, tetapi juga dari kualitas sumber daya manusianya.

"Kalau musik telah mengangkat nama Ambon di panggung dunia, maka literasi harus menjadi jalan untuk melahirkan generasi Ambon yang unggul, berkarakter, dan mampu bersaing secara global," pungkasnya.(RED)