Oleh: Suratman Kelley, A. Md. TL
TINTATIMUR.ID - Kita sering berbicara tentang indahnya Desa Geser. Lautnya yang jernih, pantainya yang menawan, budaya yang masih terjaga, serta keramahan masyarakatnya selalu menjadi kebanggaan. Berbagai upaya promosi terus dilakukan agar Desa Geser semakin dikenal sebagai destinasi wisata di Kabupaten Seram Bagian Timur.
Namun, ada satu pertanyaan yang perlu kita renungkan bersama. Apa arti promosi wisata jika sampah masih berserakan di jalan, di pesisir pantai, bahkan berakhir di laut?
Persoalan sampah bukan lagi masalah kecil yang bisa ditunda penyelesaiannya. Sampah adalah cermin kesadaran sebuah daerah. Ketika wisatawan datang dan melihat lingkungan yang kotor, mereka tidak hanya menilai keindahan alam, tetapi juga menilai kepedulian masyarakat dan keseriusan pemerintah dalam mengelola daerahnya.
Kita tidak boleh terus bangga dengan panorama alam, sementara di saat yang sama membiarkan sampah menjadi bagian dari pemandangan sehari-hari. Alam telah memberikan keindahan yang luar biasa kepada Desa Geser. Ironisnya, manusialah yang justru perlahan merusaknya.
Karena itu, kesadaran masyarakat harus berubah. Jangan lagi menganggap membuang sampah sembarangan sebagai hal yang biasa. Setiap bungkus plastik yang dibuang ke pantai, setiap botol yang dibiarkan mengapung di laut, dan setiap tumpukan sampah yang dibiarkan menumpuk adalah ancaman bagi masa depan pariwisata, kesehatan, dan kehidupan generasi mendatang.
Di sisi lain, pemerintah tidak cukup hanya mengajak masyarakat menjaga kebersihan melalui slogan atau imbauan. Pemerintah Desa Geser dan Pemerintah Kabupaten Seram Bagian Timur harus menunjukkan komitmen yang nyata.
Pengelolaan sampah membutuhkan kebijakan yang jelas, penyediaan tempat sampah yang memadai, sistem pengangkutan yang teratur, edukasi yang berkelanjutan, serta pengawasan yang konsisten. Jika diperlukan, aturan dan sanksi terhadap pembuangan sampah sembarangan harus diterapkan secara adil demi kepentingan bersama.
Membangun pariwisata tidak cukup dengan memasang baliho, membuat festival, atau mempromosikan keindahan alam di media sosial. Pariwisata yang berkualitas dimulai dari lingkungan yang bersih, tertata, dan nyaman. Wisatawan akan selalu mengingat tempat yang bersih lebih lama daripada tempat yang hanya indah dalam foto.
Sudah saatnya persoalan sampah menjadi agenda pembangunan yang serius, bukan sekadar kegiatan bersih-bersih ketika ada acara tertentu. Kebersihan harus menjadi budaya, bukan pencitraan. Sebab, daerah yang mampu menjaga lingkungannya adalah daerah yang siap menyambut masa depan.
Mari kita berhenti saling menyalahkan. Masyarakat memiliki tanggung jawab untuk menjaga kebersihan, sementara pemerintah memiliki kewajiban menyediakan sistem pengelolaan sampah yang efektif. Ketika keduanya berjalan bersama, Desa Geser tidak hanya dikenal karena keindahan alamnya, tetapi juga karena masyarakatnya yang sadar lingkungan dan pemerintahnya yang hadir memberikan solusi.
Pariwisata bukan hanya soal mendatangkan wisatawan. Pariwisata adalah tentang bagaimana kita menghormati alam yang telah menjadi sumber kehidupan. Jika hari ini kita gagal menjaga kebersihan, maka jangan salahkan siapa pun ketika wisatawan memilih pergi ke tempat lain yang lebih bersih dan lebih tertata.

0Komentar