Oleh: Siti Khoiriyah Hatala
TINTATIMUR - Belakangan ini, istilah pariwisata berkelanjutan semakin sering digaungkan. Pantai dibersihkan, promosi wisata semakin gencar, dan ajakan menjaga lingkungan terus disampaikan. Semua itu tentu patut diapresiasi. Namun, izinkan saya mengajukan satu pertanyaan sederhana: apakah pariwisata berkelanjutan memang cukup dimaknai dengan pantai yang bersih dan promosi yang menarik? Atau jangan-jangan kita baru membangun citra tentang pariwisata berkelanjutan?
Tulisan ini bukan untuk mengecilkan setiap upaya yang telah dilakukan. Sebaliknya, tulisan ini lahir dari harapan agar Desa Geser tidak hanya dikenal karena keindahan alamnya, tetapi juga karena keseriusannya membangun pariwisata yang benar-benar berkelanjutan.
Desa Geser tidak kekurangan potensi. Lautnya jernih, pantainya indah, budayanya masih hidup, dan masyarakatnya dikenal ramah. Pertanyaannya, apakah kita masih ingin berhenti pada tahap mengundang wisatawan datang? Ataukah kita sudah mulai memikirkan bagaimana membuat mereka betah, tinggal lebih lama, lalu kembali lagi di kemudian hari?
Inilah yang sering luput dari pembahasan. Pariwisata berkelanjutan bukan hanya tentang mendatangkan wisatawan, tetapi juga menciptakan pengalaman yang membuat mereka ingin kembali. Pengalaman itu tidak hanya dibentuk oleh keindahan alam, tetapi juga oleh fasilitas, pelayanan, budaya, dan keterlibatan masyarakat.
Bayangkan seorang wisatawan yang datang menikmati pantai di Desa Geser. Setelah puas menikmati keindahan laut, ia ingin beristirahat atau menginap agar bisa menikmati suasana lebih lama. Lalu di mana ia akan menginap? Apakah sudah tersedia rumah peristirahatan atau homestay yang layak di sekitar kawasan wisata? Setelah berenang, di mana ia membersihkan diri? Apakah sudah tersedia kamar mandi dan toilet umum yang bersih serta terpisah antara perempuan dan laki-laki? Jika ingin menikmati kuliner khas Desa Geser, apakah mudah ditemukan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin terdengar sederhana. Namun, justru dari situlah kualitas sebuah destinasi wisata dinilai.
T1anpa homestay atau rumah peristirahatan yang memadai, wisatawan cenderung hanya datang beberapa jam lalu kembali ke daerah lain. Akibatnya, perputaran uang di Desa Geser menjadi sangat terbatas. Warung makan kehilangan pelanggan, pelaku UMKM kehilangan peluang menjual produknya, masyarakat tidak memperoleh tambahan pendapatan dari jasa penginapan, dan kesempatan membuka lapangan kerja baru pun ikut mengecil. Padahal, tujuan utama pariwisata bukan hanya meningkatkan jumlah kunjungan, tetapi juga meningkatkan manfaat ekonomi yang dirasakan masyarakat.
Hal yang sama juga berlaku pada fasilitas dasar seperti toilet umum, ruang bilas, tempat sampah, papan informasi, dan area parkir yang tertata. Fasilitas tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi sering menjadi penentu kenyamanan wisatawan. Semakin nyaman mereka berada di suatu destinasi, semakin lama mereka tinggal. Semakin lama wisatawan tinggal, semakin besar pula uang yang berputar di tangan masyarakat lokal. Bukankah itu yang seharusnya menjadi tujuan pembangunan pariwisata? Lalu bagaimana dengan lingkungan?
Mengapa perhatian kita sering kali hanya tertuju pada satu kawasan wisata? Bukankah seluruh pesisir Desa Geser memiliki keindahan yang sama berharganya? Bukankah sampah yang dibuang di satu pantai akan terbawa arus dan mencemari pantai lainnya? Jika hanya satu kawasan yang bersih sementara kawasan lain masih dipenuhi sampah, apakah itu benar-benar mencerminkan pariwisata berkelanjutan, atau kita hanya sedang membangun wajah depan yang indah untuk dilihat?
Pemerintah desa dan pemerintah daerah tentu memiliki tantangan, termasuk keterbatasan anggaran. Namun, benarkah semua persoalan selalu berakhir pada alasan anggaran? Ataukah yang lebih dibutuhkan saat ini adalah keberanian menentukan prioritas? Sebab, membangun pariwisata tidak selalu dimulai dari proyek yang besar. Terkadang, ia dimulai dari keputusan-keputusan sederhana yang tepat sasaran: memperbaiki sanitasi, mendorong homestay berbasis masyarakat, memperkuat UMKM kuliner, menata kawasan pesisir, menyediakan papan informasi, serta membuka ruang kolaborasi dengan masyarakat dan generasi muda.
Di sisi lain, masyarakat juga memiliki tanggung jawab yang tidak kalah besar. Apakah kita sudah benar-benar menjaga seluruh pesisir Desa Geser? Sudahkah kita berhenti membuang sampah sembarangan? Sudahkah kita menyadari bahwa wisatawan akan menilai Desa Geser bukan hanya dari keindahan pantainya, tetapi juga dari kebersihan lingkungan dan keramahan masyarakatnya? Pariwisata berkelanjutan tidak mungkin terwujud jika hanya dibebankan kepada pemerintah. Ia harus menjadi gerakan bersama.
Yang tidak kalah penting, pembangunan pariwisata tidak boleh mengorbankan identitas daerah. Nilai-nilai agama, adat istiadat, budaya, dan sejarah Desa Geser harus tetap menjadi fondasi utama. Wisatawan datang untuk menikmati keunikan Desa Geser, bukan untuk melihat Desa Geser kehilangan jati dirinya demi mengejar popularitas.
Pada akhirnya, masyarakat tidak sedang meminta pembangunan yang mewah. Masyarakat hanya berharap pembangunan yang utuh. Pembangunan yang tidak berhenti pada promosi, tetapi juga menghadirkan fasilitas yang layak. Pembangunan yang tidak hanya membersihkan satu pantai, tetapi menjaga seluruh pesisir. Pembangunan yang tidak hanya mengundang wisatawan datang, tetapi juga membuat mereka tinggal lebih lama, membelanjakan uangnya di usaha-usaha milik warga, dan pulang dengan keinginan untuk kembali.
Maka pertanyaannya kembali kepada kita semua: sudahkah Desa Geser membangun pariwisata yang benar-benar berkelanjutan, atau kita baru membangun citranya? Sebab, pantai yang indah memang mampu menarik wisatawan untuk datang. Namun, hanya fasilitas yang memadai, masyarakat yang berdaya, lingkungan yang terjaga, dan budaya yang tetap hidup yang akan membuat mereka kembali. Dan ketika wisatawan kembali, di situlah pariwisata benar-benar mulai menggerakkan kesejahteraan masyarakat.
Semoga tulisan ini tidak dipahami sebagai kritik semata, melainkan sebagai undangan untuk bersama-sama membangun Desa Geser yang lebih baik. Pemerintah desa, pemerintah daerah, tokoh adat, tokoh agama, pelaku usaha, generasi muda, dan seluruh masyarakat memiliki peran yang sama pentingnya dalam mewujudkan pariwisata yang benar-benar berkelanjutan. Kolaborasi menjadi kunci agar setiap langkah pembangunan tidak hanya menghasilkan destinasi yang indah, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat serta tetap menjaga kelestarian alam, budaya, dan nilai-nilai lokal.
Pada akhirnya, masa depan pariwisata Desa Geser bukan ditentukan oleh seberapa sering ia dipromosikan, melainkan oleh seberapa serius kita menjaganya dan membangunnya bersama. Sebab, destinasi yang baik bukan hanya mampu mengundang wisatawan untuk datang, tetapi juga mampu membuat mereka kembali, sekaligus menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat tanpa kehilangan jati diri yang menjadi kebanggaan Desa Geser.

0Komentar