AMBON, TINTATIMUR.ID Momentum peringatan Milad Bung Karno dimanfaatkan sebagai ruang bagi anak muda Maluku untuk menyuarakan gagasan strategis tentang masa depan daerah.

Dalam lomba pidato yang digelar PDI Perjuangan Maluku, Ketua PC Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kota Ambon, Basyir Tuhepaly, tampil membawakan pidato bertajuk "Saat Pancasila Pulang ke Laut: Blok Masela Pintu Kesejahteraan Orang Maluku untuk Indonesia Raya."

Di hadapan dewan juri dan peserta lomba, Basyir menegaskan bahwa pengelolaan Blok Masela tidak boleh dipandang semata sebagai proyek industri migas, melainkan sebagai ujian nyata implementasi nilai-nilai Pancasila dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat Maluku.

"Bung Karno mengajarkan kita berani bermimpi besar untuk bangsa. Hari ini mimpi itu kita uji di laut Maluku. Blok Masela bukan sekadar proyek gas. Ia adalah ujian Pancasila. Ujian tentang apakah kekayaan negeri ini benar-benar kembali untuk rakyat," tegas Basyir, Rabu (01/07/2026).

Menurutnya, semangat Bung Karno harus terus dihidupkan melalui keberpihakan terhadap daerah-daerah penghasil sumber daya alam yang selama ini belum sepenuhnya menikmati hasil kekayaan yang dimilikinya.

Dia menilai, merawat ingatan sejarah berarti tidak melupakan luka kolonialisme yang pernah dialami Maluku sebagai tanah rempah.

Sementara mengamalkan Pancasila, kata dia, harus diwujudkan melalui kebijakan yang memastikan masyarakat tidak lagi hidup dalam kemiskinan di tengah kekayaan laut dan sumber daya alam yang melimpah.

Dalam pidatonya, Basyir menguraikan pengelolaan Blok Masela melalui perspektif lima sila Pancasila.

Pada sila pertama dan kedua, ia menekankan bahwa sumber daya alam merupakan amanah Tuhan yang harus dikelola untuk memanusiakan manusia, khususnya masyarakat Maluku.

Sila ketiga, menuntut agar proyek strategis nasional tersebut menjadi alat pemersatu melalui pembangunan hilirisasi di Maluku serta pembukaan lapangan kerja yang berpihak kepada putra-putri daerah.

Sementara sila keempat menghendaki adanya ruang dialog yang setara antara pemerintah, akademisi, tokoh adat, tokoh agama, dan generasi muda dalam menentukan arah pembangunan.

Adapun sila kelima, lanjutnya, harus diwujudkan melalui keadilan sosial yang nyata, berupa pembangunan rumah sakit, sekolah vokasi maritim, program beasiswa, infrastruktur jalan, listrik, hingga penguatan kedaulatan pangan masyarakat.

"Jangan jadikan Masela sebagai pagar yang memisahkan. Jadikan ia pintu. Pintu menuju Indonesia yang adil dan Maluku yang berdikari atas lautnya sendiri," ujarnya.

Menutup pidatonya, Basyir mengajak generasi muda Maluku untuk tidak bersikap apatis terhadap berbagai persoalan pembangunan daerah. 

Semangat perjuangan Bung Karno harus diterjemahkan melalui kerja-kerja intelektual yang kritis, berbasis data, dan mengedepankan semangat gotong royong.

"Dirgahayu Bung Karno. Hidup Pancasila. Hidup Anak Muda Maluku. Hidup Indonesia Raya," pungkasnya.

Lomba pidato yang digelar dalam rangka Milad Bung Karno tersebut menjadi wadah bagi generasi muda Maluku untuk menyampaikan gagasan kebangsaan sekaligus menawarkan solusi atas berbagai isu strategis daerah.

Salah satu yang paling mengemuka adalah harapan agar pengelolaan Blok Masela benar-benar menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat Maluku sebagai daerah penghasil, sekaligus memperkuat cita-cita Indonesia yang berkeadilan sosial. (RED)