BULA, TINTATIMUR.ID – Di tengah derasnya arus modernisasi, tidak semua warisan leluhur mampu bertahan mengikuti perkembangan dunia.
Namun bagi Edi Rumau, menjaga tradisi bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan menghidupkannya melalui karya yang bernilai ekonomi.
Selama lebih dari satu tahun, Edi menekuni usaha pembuatan Dupa atau Jupa, kerajinan tangan tradisional yang biasa digunakan masyarakat dalam acara doa, tahlilan, malam Jumat, maupun berbagai kegiatan keagamaan.
Di balik bentuknya yang sederhana, setiap Jupa, sebutan orang Maluku ini menyimpan proses panjang yang dikerjakan dengan penuh kesabaran dan ketelitian.
Jupa buatan Edi dibuat dari campuran semen dan pasir, kemudian diperkuat dengan besi sebagai tulang agar lebih kokoh dan tahan lama.
Seluruh proses produksi dilakukan secara manual menggunakan peralatan sederhana, seperti paku, besi, kawat bendrat hingga memanfaatkan bekas jam dinding sebagai alat bantu.
"Setelah selesai dicetak, saya dan istri langsung menghaluskan seluruh bagian Jupa menggunakan amplas. Setelah itu baru dicat sesuai warna yang diinginkan pembeli," ujar Edi kepada Tintatimur.id, Selasa (07/07/2026).
Tak berhenti pada proses pengecatan, Edi juga mengukir kaligrafi Arab pada bagian Jupa. Menurutnya, ukiran tersebut bukan sekadar hiasan, tetapi menjadi ciri khas yang memperkuat nilai estetika sekaligus fungsi Jupa sebagai perlengkapan yang digunakan saat pembacaan doa.
"Saya membuat tulisan Arab supaya lebih indah, karena Jupa ini biasanya dipakai saat membaca doa dalam berbagai acara maupun malam Jumat," katanya.
Dia menjelaskan bahwa setiap unit Jupa dijual dengan harga Rp100 ribu. Setelah selesai diproduksi, Edi langsung memasarkan hasil karyanya melalui akun Facebook pribadinya.
Dari media sosial itulah sebagian besar pesanan datang, kemudian ia sendiri mengantarkan produk kepada para pembeli.
"Kalau sudah selesai saya langsung posting di Facebook. Kalau ada yang pesan, saya antar langsung," jelasnya.
Usaha rumahan itu kini menjadi penopang ekonomi keluarganya. Dalam sepekan, Edi mengaku dapat memperoleh pendapatan sekitar Rp1 juta, bahkan lebih ketika pesanan meningkat.
"Alhamdulillah, usaha sederhana ini bisa membantu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari," tuturnya.
Di balik setiap Jupa yang terjual, ada peran sang istri yang setia mendampingi. Keduanya bekerja bersama mulai dari proses penghalusan, pengecatan hingga penyelesaian pesanan, menjadikan usaha kecil tersebut sebagai sumber penghidupan keluarga.
Selain memproduksi Jupa, Edi juga membuat berbagai perlengkapan prasmanan dan peralatan rumah tangga berbahan dasar semen yang dikerjakan secara manual.
Mulai dari pencetakan, penghalusan, pengecatan hingga tahap akhir dilakukan dengan teliti untuk menghasilkan produk yang kuat, menarik, dan memiliki nilai seni.
Namun bagi dirinya, usaha ini bukan hanya tentang mencari keuntungan. Ia ingin membuktikan bahwa kerajinan tradisional masih memiliki tempat di tengah perkembangan zaman dan layak diwariskan kepada generasi muda.
"Ini bukan sekadar usaha. Saya ingin anak-anak muda tahu bahwa kita punya kerajinan tangan peninggalan leluhur yang harus terus dijaga dan diingat," katanya.
Meski usahanya terus berjalan, Edi berharap pemerintah daerah melalui dinas terkait dapat memberikan perhatian kepada para perajin lokal, baik dalam bentuk bantuan peralatan, pembinaan, maupun akses pemasaran.
"Harapan saya, semoga ada dukungan dari dinas terkait agar usaha ini bisa berkembang dan kerajinan Jupa semakin dikenal masyarakat luas," harapnya.
Kisah Edi Rumau menjadi bukti bahwa sebuah warisan budaya dapat tetap hidup ketika ada tangan-tangan yang setia merawatnya.
Dari bengkel sederhana, ia tidak hanya mencetak Jupa, tetapi juga menjaga jejak leluhur agar tetap dikenang di tengah perubahan zaman. (RED)

0Komentar