Oleh: Abe Yanlua, Akademi Universitas Pattimura 

TINTATIMUR.ID - Di tengah perhelatan Piala Dunia 2026, gemuruh stadion-stadion megah, serta sorak soari para penonton di depan TV. Dunia seoalah terpaku pada sosok senimanan yang gerakannya, menyerupai tarian keindahan dari sepak bola. Lionel Messi, bagi mereka yang mengidolakan Messi. ia tidak hanya sekedar pemain ia, lebih dari itu El Messias (sang juru selamat). sosok yang memecah kebuntuhan timnya dengan sentuhan magis. 

Unfortunately, ketika pertandingan usai dan TV dimatiakan, seketika kita kembalai dihadapkan dengan masalah tingginya angka kemiskinan, satagnasi serapan angkatan kerja, dengan kata lain tingginya angka pengangguran terbuka, serta disparias pendidikan atau ketimpangan pendidikan. Fenomena hari ini menegaskan bahwa Euforia piala duni tidak akan pernah mampu mengeliminasi, problem sistemik yang tengah dihadapi oleh masyarakat Aru terutama di wilayah terluar. di titik ini lah Aru membutuhkan Messi sang “El Messias”

Messias dan Taktik False Nine

Julukan El Messias pada Lionel Messi tidak hanya sekedar Beutifikasi Retoris, ia adalah figure pembeda bahkan penentu arah pertandingan, saat sistem strategi tim mengalami kebuntuhan. ketika lini para penyerang furstasi menembus pertahanan lawan dan kekalahan serasa di pelupuk mata. Messi tiba merubah hasil akhir pertandingan melalui kejeniusan taktiknya.

Di usia yang tidak mudah lagi, penyematan El Messias kepada Messi termanifestasi dalam perannya sebagai Fals Nine (Penyerang Palsu). Berbeda dari penyerang pada umumnya yang hanya bertugas didepan gawan, menunggu bola, Messi justru aktif turun kelini tengah menjemput bola. begerak secara dinamis, guna memancing bek lawan keluar dari posisinya sehingga menciptakan ruang kosong bagi rekan setimnya, sambal terus melakukan scanning. di titik ini lah letak kejeniusan messi membaca arah pertandingan dan memanipulasi ruang secara visioner sebelum akhirnya menciptakan gol. 

Diam Di Depan Gawang 

Dalam konteks tata kelola pemerintahan, kita membutuhkan "kebijakan False Nine" sebuah model kepemimpinan yang berani mendobrak pakem birokrasi yang kaku, bersedia turun ke lini paling bawah, dan jeli melakukan scanning guna melihat masalah yang selama ini luput dari pandangan mata burung (bird's-eye view). 

Masalah utama tata kelola pembangunan di kepulauan Aru adalah Policy approach (pendekatan kebijakan) yang bersifat reaktif dan linier. pemerintah terkesan diam di depan gawang pasif dan menunggu, hanya akan merespon masalah-masalah dengan solusi jangka pendek musiman. pola dan taktik seperti ini mencerminkan adanya kebutaan ruang dalam melihat karakteristik wilayah periferal seperti Kepulauan Aru.

Jika di disclose (dibuka) dampak nyata dari kegagalan taktik tersebut, adalah kemiskinan sitemik, angka kemiskinan di kepulauan Aru bertahan tinggi di kisaran 26 % - 27%, berdasarkan data yang dirilis dari Badan Pusat Statistik (BPS). Di tambah lagi kerentanan Ekonomi, akibat tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) dan diperparah dengan anak muda Aru terjebak dalam fenomena Underemployment (Setengah Pengangguran) karena minimnya lahan pekerjaan. 

Secara teoritis, kegagalan penanganan ini dikupas tajam oleh geografer marxis David Harvey melalui teori Spatial Fix (Solusi Spasial). Harvey berargumen bahwa kebijakan publik yang kaku sering kali menciptakan ketimpangan spasial, di mana wilayah periferal (pinggiran) seperti Aru. (Harvey D. 2001). 

Selain itu sengaja atau tidak sengaja, kegagalan pemerintah menyadari bahwa ketimpangan spasial ini. Menyebabkan pertumbuhan sektor formal gagal menjangkau wilayah kepulauan terluar, sehingga memaksa angkatan kerja lokal terjebak dalam pengangguran terbuka atau sektor informal maritim dengan produktivitas rendah di dalam kota Dobo.

Menjemput Bola di Lini Tengah. 

Dalam arsitektur taktis sepak bola modern, lini tengah begitu krusial. Itulah mengapa Messi ikut turun menjemput bola dan mengorkestrasi penyerangan. sebab kegagalan menguasai lini tengah secara eksponensial akan melumpuhkan fungsionalitas lini depan dan lini belakang.

Pada tataran level kehidupan sosial ekonomi masyarakat, pendidikan sendiri dirancang sebagai lilin tengah, sebuah social elevator yang merupakan saluran kongkrit membebasakan manusia dari posisi paling rendah (Kemiskinan) melalui pengetahuan dan keterampilan. 

Merujuk pada Capabilitas Approach (Pendekatan Kapabilitas), idealnya pendidikan bertindak sebagai instrument untuk memperluas kapabilitas dan aksebilitas manusia (Amartya Sen 1999). Melalui pendidikan yang berkualitas, Manusia Aru mendapatkan kapasitas untuk mengaktualisasikan diri atau kebebasan untuk mendapatkan posisi pekerjaan yang layak. 

Namun Alih-alih membebaskan, sistem pendidikan di wilayah peripheral seperti kepulauan Aru, justru mengalami kelumpuhan fungsional yang ditandai dengan Indeks Pembangunan Masusia (IPM) yang mandek. pada gilirannya sistem pendidikan justru menjadi social reproduksi (agen reproduksi sosial) yang menambah kelas sosial yang miskin atau angka kemiskinan di Aru. 

Kondisi ini mencerminkan kegagalan pemerintah dalam menyediakan keadilan akses. Akibat pembiaran terhadap rusaknya Infrastruktur pedagogis dan minimnya guru berkualitas. kembali maksa Anak Muda Aru menjadi pengangguran atau buruh kasar. Rantai kemiskinan dari generasi tua ke generasi muda pun gagal diputus.

Sehingga menjemput bola di lini tengah menjadi sangat penting. Dengan merekonstruksi lini tengah ini, pendidikan bertransformasi dari alat reproduksi kemiskinan menjadi senjata ofensif yang membekali anak muda Aru dengan modal pengetahuan, budaya dan keahlian. Hasilnya, kualifikasi mereka akan memumpuni dalam mendapatkan pekerjaan formal yang layak.

Harapan Dari Penonton

Pada akhirnya Pemerintah tidak bisa lagi memelihara "kebutaan ruang" dan harus segera pensiun dari gaya main pasif. Elit birokrasi wajib "turun ke lini tengah" untuk menjemput bola, melakukan scanning masalah sampai ke pulau terluar, dan merombak lini tengah (pendidikan) agar anak muda Aru punya kapabilitas mumpuni untuk beralih dari buruh kasar menjadi pemain bintang di sektor formal. Singkat kata kalau Aru mau keluar dari zona degradasi kemiskinan sistemik, birokrasinya harus berhenti main pakai otot regulasi yang kaku, dan mulailah main pakai otak yang visioner serta magis layaknya sang El Messias.